
WARTA IDAMAN

MALANG— Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Anggota Komisi XIII DPR RI Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., menggelar kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Aula Gedung KH. Moh. Said Lantai 3, Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Selasa (29/9/2026).
Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan wawasan kebangsaan sekaligus refleksi mengenai pentingnya menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat, khususnya di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Rektor UNIRA Malang, K.H. Imron Rosyadi Hamid, Ph.D., dalam sambutannya menekankan keterkaitan erat antara sejarah perjuangan bangsa, nilai keagamaan, dan semangat persatuan. Ia mengingatkan kembali kiprah para santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan serta menempatkan Pancasila sebagai fondasi yang relevan untuk membangun perdamaian dunia.
Menurutnya, semangat Pancasila memiliki titik temu dengan nilai-nilai kebajikan dalam ajaran Islam, termasuk prinsip ta’awun ‘alal birri wat taqwa, yakni saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Pendidikan Pancasila dan Tantangan Pasca-Reformasi
Plt. Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Dr. Tonny Agung Arifianto, S.E., M.A.B., dalam paparannya membahas perjalanan pembinaan ideologi Pancasila sekaligus pentingnya pendidikan Pancasila bagi generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa setelah Reformasi 1998 terjadi perubahan dalam sistem pembinaan ideologi dan pendidikan Pancasila. Kondisi tersebut, dalam paparannya, turut menjadi latar munculnya berbagai tantangan seperti radikalisme, ekstremisme, dan deideologisasi.
Tonny juga menjelaskan perkembangan kelembagaan BPIP yang bermula dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) pada 2017, kemudian ditingkatkan menjadi BPIP pada 2018.
Dalam konteks pendidikan, BPIP disebut telah menerbitkan 24 Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila, terdiri atas 12 buku siswa dan 12 buku guru untuk jenjang PAUD hingga pendidikan menengah. Materi tersebut menempatkan aspek tindakan dan pengamalan nilai Pancasila sebagai bagian penting dalam pembelajaran.
Ia juga menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar pengetahuan yang harus dihafalkan, tetapi harus diyakini, dipahami, dihayati, dan diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pancasila sebagai Titik Temu Keberagaman
Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama dan Kemahasiswaan UNIRA Malang, Dr. Hasan Bisri, M.Pd., dalam pemaparannya menguraikan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa.
Ia menjelaskan bahwa kelima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang saling menjiwai. Nilai-nilai tersebut tumbuh dari kebudayaan, adat istiadat, serta nilai keagamaan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam konteks keberagaman, Pancasila dipandang sebagai common ground atau titik temu yang memungkinkan masyarakat dengan latar belakang suku, bahasa, agama, dan budaya yang berbeda tetap berada dalam satu ikatan kebangsaan.
Semangat persatuan tersebut, lanjutnya, juga memiliki keterkaitan dengan peran Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia melalui politik luar negeri bebas aktif, kontribusi pasukan perdamaian PBB, Konferensi Asia-Afrika 1955, serta Gerakan Non-Blok.
Relawan Kebajikan Hadapi Tantangan Era Digital
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Kepala Biro Fasilitasi Pimpinan, Hubungan Masyarakat, dan Administrasi BPIP, Mahnan Marbawi, mengingatkan adanya tantangan baru berupa polarisasi, politisasi identitas, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, serta menurunnya daya kritis di ruang digital.
Menurut materi yang disampaikan, nilai Pancasila perlu diterjemahkan ke dalam perilaku digital. Media sosial diharapkan dapat menjadi ruang integrasi bangsa, bukan justru menjadi arena polarisasi.
Dalam konteks tersebut, relawan Gerakan Kebajikan Pancasila didorong untuk mengambil peran sebagai teladan, menyebarkan konten positif, memperkuat literasi digital, membuka dialog lintas identitas, dan menggerakkan aksi sosial di tengah masyarakat.
Konsep persaudaraan juga diperluas melalui Tri Logi Ukhuwah, yakni Ukhuwah Diniyah sebagai persaudaraan sesama umat beragama, Ukhuwah Wathaniyah sebagai persaudaraan sebangsa dan setanah air, serta Ukhuwah Basyariah sebagai persaudaraan sesama manusia.
Ahmad Basarah: Mahasiswa Harus Menyatukan Keislaman dan Kebangsaan
Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., hadir sekaligus memberikan arahan dalam sesi penutupan kegiatan.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Basarah menyampaikan pentingnya mahasiswa memiliki cita-cita besar dan tekad kuat untuk membangun masa depan. Ia mengingatkan generasi muda agar fokus pada pendidikan dan menjauhi narkoba, minuman keras, serta berbagai bentuk pergaulan negatif.
Ia juga menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi Islam memiliki ruang kontribusi yang luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, pendidikan keislaman dan wawasan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam membentuk calon pemimpin Indonesia.
Semangat tersebut dirangkum dalam gagasan “Hubbul Wathan Minal Iman”, yakni kecintaan terhadap tanah air sebagai bagian dari semangat pengabdian dan kehidupan kebangsaan.
Ahmad Basarah juga mengajak generasi muda untuk memahami sejarah lahirnya Pancasila. Proses sejarah dari pidato Soekarno pada 1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, hingga pengesahan rumusan final Pancasila pada 18 Agustus 1945 disebut sebagai rangkaian penting yang perlu dipahami secara utuh.
Ia menekankan pentingnya prinsip Jasmerah—Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, sekaligus mengingatkan pentingnya Jashijau—Jangan sekali-kali melupakan jasa ulama.
BACA JUGA: Info Kondisi Relawan AWG Pascakecelakaan di Tol Cipali
Menjaga Pancasila sebagai Ideologi yang Hidup
Rangkaian kegiatan di UNIRA Malang tersebut pada akhirnya menempatkan Pancasila bukan semata sebagai konsep kenegaraan, tetapi sebagai nilai yang perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Penguatan relawan diharapkan dapat memperluas praktik kebajikan, gotong royong, toleransi, dialog, serta kepedulian sosial di tengah masyarakat.
*****
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN Berita Semesta
- FORUM KOMUNIKASI SENI TAMAN ISMAIL MARZUKI (FKSTIM) Gelar Aksi di Balai Kota, Tuntut Pembatalan Pengukuhan Anggota DKJ dan Akademi Jakarta
- UIA Resmikan Klinik As-Syifa dan Lembaga Penjaminan Mutu
- Pemohon Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Dorong MK Pertimbangkan Diskualifikasi
- Mahasiswa Transparansi Memberi Dukungan Penuh TPS 3R Menteng Atas Terbukti Aman Berdasarkan Uji Lab
- Syifa Fauzia Kembali Pimpin BKMT Periode 2026–2031
- INSED-LPS Tanam 20.000 Mangrove di Karawang, Gaungkan Aksi Tobat Ekologis
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*anwi/ wi/ nf/ 300926
Views: 1

















