Beranda / SEMESTA / Teori Ibnu Khaldun Uji Ketahanan Negara: Kunci Bukan Hanya Ekonomi dan Militer

Teori Ibnu Khaldun Uji Ketahanan Negara: Kunci Bukan Hanya Ekonomi dan Militer

‎JAKARTA, — Pemikiran Ibnu Khaldun tentang siklus bangkit dan runtuhnya negara dinilai masih relevan untuk membaca tantangan pemerintahan Indonesia hari ini. Ketahanan sebuah negara ternyata tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militer, melainkan juga oleh solidaritas sosial, keadilan, legitimasi kekuasaan, dan kepercayaan publik terhadap institusi.

‎Pandangan itu mengemuka dalam Limited Group Discussion (LGD) Edisi ke-24 yang digelar Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) Universitas Paramadina,  di Ruang Cordova, Kampus Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur. Rabu (14/10/26)

‎Diskusi yang mengusung tema “Siklus Bangkit dan Runtuhnya Negara: Perspektif Ibnu Khaldun dan Masa Depan Konflik Amerika Serikat–Iran” menghadirkan Ketua PIEC Pipip A. Rifa’i Hasan, Ph.D. sebagai narasumber dan Dida Darul Ulum, M.A. sebagai moderator.

‎Dalam paparannya, Pipip A. Rifa’i menjelaskan konsep Asabiyyah atau solidaritas sosial sebagai fondasi utama keberlangsungan negara.

‎Menurut Ibnu Khaldun, setiap negara akan melewati fase kebangkitan, kejayaan, kemunduran, hingga pergantian kekuasaan. Siklus tersebut bukan ramalan pasti soal keruntuhan, melainkan kerangka analisis untuk memahami perubahan politik dan sosial.

‎Jika ditarik ke konteks Indonesia, teori ini memunculkan pertanyaan kritis: sejauh mana kebijakan pemerintah mampu memperkuat persatuan, mewujudkan keadilan ekonomi, dan menjaga kepercayaan masyarakat?

‎“Persatuan tidak cukup dibangun melalui slogan, tetapi harus diwujudkan lewat pemerataan kesejahteraan, pelayanan publik yang berkualitas, dan penegakan hukum yang adil,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

‎Ketua PIEC Pipip A. Rifa’i, menjelaskan pertumbuhan ekonomi dan kekuatan militer saja tidak cukup menjaga stabilitas nasional. Legitimasi politik, distribusi kesejahteraan yang adil, dan kualitas institusi memiliki peran yang sama pentingnya.

‎Pembangunan, kata dia, harus diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi perlu dibarengi dengan terbukanya lapangan kerja layak, pemerataan akses ekonomi, dan pengelolaan anggaran yang transparan.

‎Di sisi lain, konsolidasi kekuasaan tidak boleh melemahkan fungsi pengawasan. Kebebasan pers, independensi peradilan, dan mekanisme kontrol terhadap pemerintah tetap menjadi pilar demokrasi yang sehat.

‎Dalam sesi tanya jawab, awak media menyoroti faktor apa saja yang membuat negara mampu bertahan selain kekuatan militer dan ekonomi.

‎lebih lanjut kembali menanggapi hal itu, ia juga menjelaskan bahwa ketahanan negara juga ditentukan oleh legitimasi politik, solidaritas sosial, keadilan dalam distribusi kemakmuran, serta kemampuan menyesuaikan ambisi strategis dengan kapasitas nasional.

‎Ia juga mengaitkan pembahasan dengan konflik Amerika Serikat versus Iran. Menurutnya, kekuatan militer tidak menjamin keberlangsungan negara jika tidak ditopang fondasi ekonomi dan sosial yang kuat. Konsep imperial overstretch atau beban strategis yang melampaui kemampuan nasional bisa menjadi bumerang bagi negara adidaya.

Diskusi ‎PIEC ini menegaskan, teori Ibnu Khaldun tidak bisa digunakan secara mutlak untuk meramalkan keruntuhan negara modern. Adanya konstitusi, birokrasi, pemilu, dan lembaga peradilan memungkinkan negara bertahan melalui mekanisme kelembagaan.

‎Namun, efektivitas institusi tersebut tetap harus diuji lewat kebijakan yang transparan, penegakan hukum yang konsisten, dan respons pemerintah terhadap kebutuhan rakyat.

‎“Ketahanan negara tidak hanya bergantung pada seberapa kuat pemerintah memegang kekuasaan, tetapi juga pada kemampuannya menjaga keadilan, membangun kepercayaan, dan memperkuat solidaritas masyarakat,” pungkas Pipip.

‎Melalui LGD Edisi ke-24 ini, PIEC Universitas Paramadina menghadirkan kembali pemikiran klasik Ibnu Khaldun sebagai pisau analisis untuk membaca tantangan negara modern di tengah perubahan geopolitik global.

*****

irsh/ pjmi/ wi/ nf/ 151026: irwan

Views: 0

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 229
  • 190
  • 161
  • 149
  • 1,401
  • 4,592
  • 80,703
  • 80,703
  • 155,661
  • 0
  • 4,966
  • 270