Ketua Bidang Ukhuwah MUI Pusat Paparkan Tiga Dimensi Persaudaraan untuk Jakarta Kota Global

WARTA IDAMAN

JAKARTA โ Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., mengajak umat Islam untuk memahami persaudaraan secara utuh melalui tiga dimensi ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam materinya pada kegiatan Silaturahmi Ormas Islam yang diselenggarakan MUI Provinsi DKI Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dalam pemaparan bertajuk โMerajut Ukhuwah, Menguatkan Umat Menuju Jakarta Kota Globalโ, Kiai Zaitun menjelaskan bahwa ketiga dimensi ukhuwah memiliki landasan dan ruang lingkup masing-masing, tetapi dapat saling melengkapi dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berkeadaban.
โIslam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan sesama Muslim. Pada saat yang sama, kita juga memiliki tanggung jawab kebangsaan dan kewajiban untuk menghormati martabat sesama manusia. Ketiganya perlu kita tempatkan secara proporsional dan saling menguatkan,โ ujar Kiai Zaitun.
Pertama, ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan yang dibangun di atas kesamaan iman dan Islam.
Kiai Zaitun menegaskan bahwa ukhuwah Islamiyah merupakan ikatan mendasar antarsesama Muslim sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10.
Persaudaraan tersebut harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menghilangkan prasangka, memperbaiki hubungan ketika terjadi perselisihan, serta membangun kolaborasi antarlembaga dan organisasi Islam.
โUkhuwah Islamiyah tidak menuntut semua umat Islam berada dalam satu organisasi atau memiliki pandangan ijtihad yang selalu sama. Yang penting adalah bagaimana perbedaan itu tetap berada dalam bingkai persaudaraan dan tidak menghalangi kerja sama dalam kebaikan,โ jelasnya.
Kedua, ukhuwah wathaniyah, yakni persaudaraan kebangsaan yang menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab bersama terhadap masa depan bangsa dan negara.
Menurut Kiai Zaitun, dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga persatuan, keamanan, ketertiban, keadilan sosial, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Ia mengangkat pengalaman Rasulullah ๏ทบ dalam membangun masyarakat Madinah melalui Piagam Madinah sebagai salah satu contoh penting tentang bagaimana kehidupan bersama dapat dibangun di tengah keragaman kelompok masyarakat.
โSebagai umat Islam, kita juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Karena itu, menjaga persatuan bangsa, memperjuangkan keadilan, dan berkontribusi bagi kemajuan negara adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama,โ tuturnya.
Ketiga, ukhuwah insaniyah, yakni persaudaraan kemanusiaan yang dilandasi penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Kiai Zaitun mengingatkan bahwa Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Isra’ ayat 70.
Prinsip tersebut menjadi landasan bagi kepedulian terhadap sesama, termasuk dalam bantuan kemanusiaan, penanganan bencana, perlindungan masyarakat rentan, serta upaya menegakkan keadilan.
โDalam urusan kemanusiaan, kita harus memiliki kepedulian yang luas. Ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, mengalami musibah, atau menghadapi ketidakadilan, kepedulian kita tidak boleh dibatasi hanya karena perbedaan latar belakang agama atau kelompok,โ ungkapnya.
Menurut Kiai Zaitun, memahami ketiga dimensi ukhuwah secara utuh sangat penting dalam konteks Jakarta sebagai kota yang memiliki keragaman sosial, budaya, dan agama.
Umat Islam diharapkan mampu menjaga identitas dan prinsip keagamaannya sekaligus menjadi kekuatan positif dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.
โUkhuwah Islamiyah memperkokoh persaudaraan sesama Muslim, ukhuwah wathaniyah memperkuat tanggung jawab kita sebagai bangsa, dan ukhuwah insaniyah memperluas kepedulian kita terhadap sesama manusia. Ketiganya harus menjadi kekuatan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik,โ tegasnya.
Melalui penguatan ketiga dimensi persaudaraan tersebut, Kiai Zaitun mendorong ormas Islam untuk berkontribusi lebih luas dalam pembangunan Jakarta menuju kota global yang maju, berkeadilan, dan berkeadaban.
Dengan demikian, ukhuwah tidak hanya menjadi nilai yang dibicarakan dalam forum-forum keagamaan, tetapi benar-benar hadir sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang damai dan saling menguatkan.
*****
Terima kasih telah membaca artikel ini. Dapatkan artikel menarik lainnya di sini.
Dukung terus WARTA IDAMAN โ Berita Semesta "Syiar Hijrah".
Silakan berikan komentar yang membangun pada kolom di bawah ini.
Jangan lupa membagikan artikel ini ke media sosial Anda melalui tombol bagikan di bawah!
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- PB Al Washliyah Resmikan Sekolah Sepak Bola Washliyah Football Academy
- Rekam Jejak Iwan Samariansyah: Dari Jurnalis Senior hingga Menjadi Pilar Historis PJMI
- Pesan dan Kesan untuk PJMI di Usia ke-15
- Kiprah Mohammad Anthoni di Fase Sunyi: Merajut Ukhuwah dan Akar Sejarah PJMI
- Napas Perjuangan 15 Tahun PJMI: Dari Tujuh Pemrakarsa hingga Kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia: dari tujuh pemrakarsa hingga kepemimpinan Mohammad Anthoni, Iwan Samariansyah, dan Ismail Lutan
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

anar/ wi/ nf/ 061126: anwar
Views: 0



















