Beranda / LIFESTYLE / Suksesi Tak Berdarah: Pujangga Halim Menjemput Putri Raisani di Batam

Suksesi Tak Berdarah: Pujangga Halim Menjemput Putri Raisani di Batam

 

WARTAIDAMAN.com   

 

 

 

Tanpa Putri Raisani sadari, saat dia menerima ajakan Raja Difangir untuk jalan-jalan bukan belanja ke Orchad Road, karena sebetulnya mereka hanya melihat-lihat tidak membeli, kalau pun bertanya itu pun satu-satu, mungkin Putri Raisani bahkan lebih banyak mengelus-elus barang-barang yang indah cantik dan mahal itu, hal itu ternyata akan berakibat fatal terhadap hubungan antara Raja Difangir Raja Kerajaan Matraman Raya dengan Putra Mahkota Adhieyasa Setrum 35.000 watt di kelak kemudian hari.

Bahkan kondisi buruk hubungan antara raja dan putra mahkota Kerajaan Matraman Raya tersebut akan diperburuk lagi dengan aksi-aksi Slamet Raharjo Jati, sobat kental Adhieyasa Setrum 35.000 watt di Tanah Perdikan Malembang di tepian Kali Gajah Wong.

Saat Adhieyasa menyadari dirinya menjadi Putra Mahkota Kerajaan Matraman Raya, yang mempunyai hak menjadi raja di istana kerajaan, ternyata Slamet sudah menjadi raja terlebih dulu, karena demo yang dipimpin Slamet mendorong Raja Difangir mundur dari tahta tanpa sempat memberikan tahta itu kepada Adhieyasa Putra Mahkota Kerajaan Matraman Raya.

Apakah hal itu akan membuat suksesi di Kerajaan Matraman Raya menjadi berdarah-darah, setelah sebelumnya Baginda Raja Armanda memutuskan untuk memberikan tahta kerajaan Matraman Raya kepada menangnya Ki Difangir dengan perjanjian, pada saatnya nanti tahta kerajaan Matraman Raya harus diberikan kepada Putra Mahkota, Adhieyasa?
###

Pujangga Halim dan Bunda Lilik hanya dapat termenung mengetahui bahwa Putri Raisani telah bersama Raja Difangir pergi ke Singapura. Mereka merasa ada yang salah dalam mendidik Putri Raisani sebagi satu-satunya putri mereka. Tapi apa daya nasi telah menjadi bubur. Memang sempat Pujangga Halim sedikit membicarakan hal itu dengan Bunda Lilik, maksudnya tentu untuk mengatasi problem yang mungkin muncul dikelak kemudian hari.

Namun seperti juga yang terjadi pada pasangan suami istri kalau sedang mendapatkan masalah tentu sedikit banyak akan terjadi suatu perbedaan dalam menyikapi masalah yang terjadi, namun yang penting adalah mencari solusi, bukannya memperuncing situasi. Barangkali itu yang perlu menjadi perhatian bagi para suami istri.

“Putri Raisani kok bisa begitu dengan kita, ya, Bunda Lilik?”

“Maksud Kanda?”

“Ya. Dengan keputusannya ikut pergi bersama Raja Difangir, berarti ada yang salah dalam kita mendidik putri kita, Bunda Lilik.”

“Itu tanggung jawab Kanda. Putri Raisani kan anak kesayangan Kanda. Kanda begitu juga, bukan main sayangnya sama Putri Raisani, sampai kadang suara Bunda Lilik ini, tidak didengarkan nya. Putri Raisani kan patuh sama Kanda Pujangga.”

“Dalam hal seperti ini, kita tidak perlu lagi mencari siapa yang salah Bunda Lilik. Namun yang paling penting adalah mengatasi masalah yang sedang dan akan timbul terhadap Putri Raisani. Karena hal ini tidak boleh kita biarkan berlanjut, apalagi sampai berlarut-larut.”

“Maksud Kanda Pujangga?”

“Kita berdua kan tahu, bahwa sebetulnya yang diimpikan Putri Raisani di Rupat kan bukan Raja Difangir. Bahkan bisa jadi orang yang diimpikan Putri Raisani itu Adhieyasa. Kita juga tahu, bahwa Adhieyasa, pernah minta dikirimi foto Putri Raisani dari Dinda Ming, sewaktu kita dalam perjalanan ke pulau Sumatera. Kanda khawatir Adhieyasa sudah jantuh cinta dengan Putri Raisani. Sementara sekarang ini, Putri Raisani sedang bingung dibawa Raja Difangir. Ini sangat berbahaya Bunda Lilik. Sejarah bisa terulang.”

“Maksud Kanda?”

“Sejarah masa lalu di Kerajaan Mataram dapat terulang lagi. Seorang Raja dengan Putra Mahkotanya mencintai seorang perempuan yang sama. Adhieyasa seperti yang kita ketahui dari bisikan Putri Ming kepada Ki Ageng Batman, sesungguhnya adalah putra kandung Raja Difangir dengan Putri Biyan.

Adhieyasa sengaja dititipkan kepada Ki Ageng Batman di Tanah Perdikan Malembang di tepian Kali Gajah Wong, untuk dibina sampai dia siap menerima tugas berat, sebagai Putra Mahkota Kerajaan Matraman Raya.

Pada saatnya nanti, Ki Difangir harus menyerahkan tahta kerajaan Matraman Raya kepada Adhieyasa.

Nah kalau sekarang mereka terlibat masalah karena sama-sama mencintai Putri Raisani, satu-satunya putri kita.

Akan berdampak buruk pada kehidupan Putri Raisani ke depan. Kita sebagai orang tua, tidak boleh berdiam diri. Kita harus berusaha Bunda Lilik, supaya kita dapat mencegah terjadinya perebutan Wanita dari ke dua ayah beranak itu.

Belum lagi kalau kemudian itu akan berdampak pula kepada perebutan Tahta Kerajaan Matraman Raya. Akan sangat buruk sekali bagi kehidupan Putri Raisani ke depan.

Namun apa yang bisa kita lakukan sekarang. Kita masih di Hotel Acacia, sementara Putri Raisani bersama Raja Difangir di Singapura.”

“Kalau itu mah gampang Kanda.”

“Jangan Bunda Lilik usul seperti yang sudah-sudah, malu Kakanda. Kita minta satu kamar dengan ekstra bed saja, malahan dapat dua kamar yang ada conneting doornya.

Tapi ternyata tidak juga berpengaruh, Putri Raisani, putri kita pergi juga bersama Raja Difangir.”

“Itu soal lain Kakanda. Kalau kita harus berangkat ke Batam, untuk menjemput Putri Raisani, kan memang harus kontak kawan Kakanda itu.”

”Yah, namanya juga fiksi, ya, Bunda Lilik cerdas deh.”

”Tapi tunggu, Bunda pengin lihat siaran tv dulu. Perasaan dari tadi kita belum sempat menikmati siaran tv.”

Pujangga Halim tahu betul kebiasaan Bunda Lilik. Maklum hiburan yang paling murah dan mudah didapat sekarang kan memang nonton tv. Terkadang acara di tv, itu bisa menghilangkan keinginan untuk bergaul dengan tetangga, melupakan jadwal wirid dan lain-lain sebagainya.

Tetapi itu memang menjadi tantangan bersama dalam kehidupan masyarakat. Hanya memang tidak dapat dipungkiri, terkadang sekarang TV dapat menjadi anchor berita. Dengan banyaknya tv swasta mereka bisa fokus terhadap suatu kejadian dan dapat langsung menyiarkannya kepada masyarakat luas, tanpa harus menunggu info dari pemerintah terlebih dulu.

“Bunda Lilik, coba pindah ke channel sebelumnya. Sepertinya ada yang menarik.”

“Baik Kanda.”

Slamet Raharjo Jati nampak dielu-elukan masyarakat banyak. Slamet Raharjo Jati dengan kemampuan akting, olah raga seni bela diri dan kemampuannya mengetahui kebutuhan masayarakat banyak, telah menjadi ikon baru.

Hari ini nampak terjadi demon di beberapa tempat di ibukota Kerajaan Matraman Raya. Para pendemo bahkan merubah sasaran yang tadinya mengarah kepada Raja Difangir, lalu mulai merangsek kantor Miss Tami Zen.

Seperti diketahui Miss Tami Zen sebetulnya merupakan utusan dari kelompok Investor Jepang, namun karena satu dan lain hal, telah menjadi Pejabat setingkat Menteri di Kerajaan Matraman Raya, yang dapat langsung mengadakan kontak dengan Raja Difangir. Mengingat Raja Difangir tidak diketahui keberadaannya, maka aksi para demontran pindah ke kantor Miss Tami Zen.

Tadi sore berita dari salah satu tv swasta menyebutkan, bahwa para demosntran mulai surut, karena ada kesepakatan rahasia antara Miss Tami Zen untuk dapat bertemu empat mata dengan Slamet Raharjo Jati. Apa yang akan mereka bicarakan untuk mengatasi masalah horeg di ibukota Kerajaan Matraman Raya itu, tidak ada yang tahu persis.

“Bunda Lilik kita tidak boleh berada di sini terus. Kita harus segera berangkat ke Batam, tolong Bunda Lilik kontak mas emjeka.”

“Ah, kanda bisa saja.”

“Atau kalau segan, Bunda Lilik bisa kontak Putri Ming, pilih mana?”

“Ah Kakanda mau enak saja?”

Pujangga Halim sudah langsung memberikan saran supaya Raja Difangir segera kembali ke Jakarta sendiri, biarlah Putri Raisani akan dijemput Pujangga Halim berdua dengan Bunda Lilik di Batam. Nampaknya Raja Difangir mendengar saran Pujangga Halim, Putri Raisani akhirnya harus menemui kedua orang tuanya itu Pujangga Halim dan Bunda Lilik di bandara Hang Nadim Batam untuk berangkat ke Jakarta bertiga.

“Maafkan Putri, Bunda.”

Putri Raisani langsung memeluk Bunda Lilik, rasa sedih dan takut kepada ke dua orang tuanya ditumpahkan oleh Putri Raisani dengan menangis tersedu-sedu di pelukan Bunda Lilik. Setelah agak lama baru Bunda Lilik, meminta kepada Putri Raisani untuk meminta maaf kepada Pujangga Halim. Putri Raisani dengan perasaan takut takut memeluk ayahnya Pujangga Halim, tanpa berani mengucap sepatah kata pun. Pujangga Halim memang sangat perasa, apalagi kalau terhadap Putri Raisani.

 

 

oleh: MJK, jurnalis PJMI.

 

 

 

 

 

*mjkr/ pjmi/ wi/ nf/ 020825 

Views: 107

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 124
  • 97
  • 193
  • 168
  • 3,740
  • 18,258
  • 168,215
  • 255,685
  • 151,192
  • 107
  • 4,783
  • 270