Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Pesan dan Kesan untuk PJMI di Usia ke-15
- Azis Khafia: Sumpah Pemoeda 28 Oktober 1928 dan Kaoem Betawi Jakarta
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
Para peserta terlibat langsung dalam menata taman, menanam, dan merawat tanaman serta mengecat pagar pagar dan bebatuan. Mereka bekerja dalam kelompok, saling membantu, dan menyelesaikan pekerjaan bersama. Hasilnya adalah taman yang terlihat lebih rapi, asri, dan indah.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa sesuatu yang baik membutuhkan proses. Tanaman tidak langsung tumbuh besar, begitu pula proses pemulihan. Dibutuhkan kesabaran, perawatan, lingkungan yang baik, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
Selain keterampilan dan kebersamaan, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran penting tentang perjuangan dan realitas kehidupan.
Melalui berbagai permainan, kegiatan kelompok, hingga lomba membuat taman, peserta diajak memahami bahwa dalam kehidupan nyata selalu ada keberhasilan dan kegagalan, kelebihan dan keterbatasan, menang dan kalah, serta pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Hadiri Munajat Santri untuk Negeri, Kiai Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup
- IES Forum & Expo 2026 Dorong Masjid Jadi Motor Penggerak Ekonomi Umat
- Jawaban Lengkap Menhaj soal Pengangkatan Tenaga Ahli dan Awal Pembentukan Kemenhaj
- Kemenhaj dan Kementerian Kebudayaan Jajaki Museum Haji Indonesia, Lestarikan Jejak Sejarah Bangsa
- Hadiri Istighosah Kebangsaan Hari Santri 2026, KH Zaitun Rasmin: Semangat Resolusi Jihad Harus Terus Hidup untuk Menjaga Persatuan Bangsa
- Peringatan Hari Santri Nasional 2026, Ketum PB Al Washliyah Sampaikan 4 Pesan

Pembelajaran tersebut menjadi penting karena sebagian peserta masih menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Perbedaan prestasi, pengalaman masa lalu, maupun situasi kompetitif terkadang dapat memunculkan rasa sedih, marah, kecewa, atau menjadi pemicu emosional.
Karena itu, melalui pendampingan mentor, psikolog, dan panitia, setiap situasi tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi hal negatif. Peserta diajak belajar menerima kenyataan, mengelola emosi, menghargai kelebihan dan keterbatasan diri maupun orang lain, serta memahami bahwa kalah bukan berarti gagal sebagai manusia dan memiliki keterbatasan bukan berarti tidak memiliki nilai.
Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa kehidupan memang merupakan perjuangan. Setiap orang memiliki perjalanan dan kemampuan yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berusaha, belajar, berkembang, dan menemukan cara untuk menghadapi tantangan secara sehat.
Dalam kegiatan tersebut, beberapa peserta sempat mengalami trigger emosional ketika mengingat pengalaman masa lalu, menghadapi perbedaan, persaingan atau menemukan situasi yang tidak sesuai dengan harapan mereka seperti pada saat pemberian apresiasi terhadap yang berprestasi
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
Views: 14





















