Beranda / KOLOM / Azis Khafia : Waspada Komunis Gaya Baru! Mengenang G 30 S/ PKI

Azis Khafia : Waspada Komunis Gaya Baru! Mengenang G 30 S/ PKI

JAKARTA
Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1965 adalah sebuah tragedi politik sekaligus tragedi kemanusiaan . Ada baiknya kita pahami dahulu apa yang dimaksud komunisme itu. Komunisme adalah sebuah ideologi politik, sosial, dan ekonomi yang bertujuan menciptakan masyarakat tanpa kelas, di mana alat-alat produksi (seperti pabrik, tanah, dan tambang) dimiliki dan dikelola secara bersama-sama oleh publik atau negara, bukan oleh individu.

Berikut adalah poin-poin

Ciri-ciri Komunisme yang harus kita pahami yakni; pertama, Kepemilikan Bersama: Tidak ada kepemilikan pribadi atas alat produksi. Semua aset ekonomi diatur untuk kepentingan bersama. Kedua, Masyarakat Tanpa Kelas: Bertujuan menghapuskan jurang antara kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum proletariat (buruh/pekerja). Ketiga, Penghapusan Hak Milik Pribadi: Barang-barang modal dan produksi dikolektifkan. Keempat, Pandangan tentang Agama: Dalam pandangan marxisme klasik, agama sering dianggap sebagai alat penenang bagi kaum buruh agar menerima kondisi penindasan (diumpamakan sebagai “opium”), sehingga penganut murni ideologi ini umumnya bersikap sekuler atau ateis.

Sejarah Singkat

Paham ini dicetuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels melalui karya terkenal mereka, [Manifesto Komunis (1848)], sebagai bentuk kritik terhadap ketidakadilan sosial akibat Revolusi Industri yang menyengsarakan kaum buruh.

Pemikiran ini kemudian dikembangkan lebih lanjut secara praktis dan otoriter oleh Vladimir Lenin di Rusia (menandai berdirinya Uni Soviet) dan kemudian oleh tokoh-tokoh lain seperti Mao Zedong di Tiongkok.

Pemikiran tentang Komunisme juga merambah Indonesia, hingga memiliki partai politik yakni Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI sempat menjadi kekuatan politik besar di Indonesia. Pada pemilu tahun 1955 menghasilkan lima kekuatan politik besar yakni ; Partai Nasionalis Indonesia (PNI), MASYUMI, Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Syarikat Islam (PSI).

Dengan mencermati catatan singkat diatas maka dapat kita pahami bahwa komunisme sebagai sebuah ideologi telah ada dan merambah ke berbagai dunia termasuk di Indonesia dan di Indonesia PKI sempat menjadi bagian kekuasaan (pemerintah) republik ini. Karenanya pembubaran PKI tahun 1966 secara kelembagaan, Partai politik dan sayap dan badan otonomnya, namun secara ideologi ia masih menjadi ancaman bagi Indonesia.

Sekedar mengingat sejarah kelam PKI, Pada tahun 1965 terjadi peristiwa politik dan peristiwa kemanusian yakni “Pemberontakan PKI atau Pengkhianatan PKI” yang lebih dikenal dengan Gerakan 30 September/ G 30 S PKI yang menimbulkan korban jiwa putera terbaik bangsa.
Korban utama peristiwa G30S/PKI di Jakarta dan Yogyakarta meliputi perwira tinggi militer dan kepolisian yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

Korban di Jakarta (Lubang Buaya)

  • Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
  • Letnan Jenderal TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD)
  • Letnan Jenderal TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD)
  • Letnan Jenderal TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD)
  • Mayor Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD)
  • Mayor Jenderal TNI Sutoyo Siswomiharjo (Oditur Jenderal/Jaksa Militer Utama)
  • Kapten Czi. Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)
  • AIP II Karel Satsuit Tubun (Pengawal Wakil Perdana Menteri J. Leimena).

Korban Lain di Jakarta

  • Ade Irma Suryani (Putri bungsu Jenderal A.H. Nasution).

Pengkhianatan PKI bukan hanya tahun 1965, setidaknya ia pernah memberontak pada tahun 1926, 1948 dan puncaknya 1965. Kini komunis secara kelembagaan memang sudah tidak nampak namun ia telah berkamuflase dan bermetamorfose menjadi Komunis Gaya Baru (KGB) dengan style (gaya) yang baru yakni lebih lembut (soft power), mereka merambah pada berbagai lini pemerintahan.

BACA JUGA: Azis Khafia : Legacy Pemoeda Kaoem Betawi 1927

Untuk itu kita perlu Membangun kewaspadaan terhadap komunisme gaya baru, tentunya dengan beberapa solusi antara lain ; Meningkatkan wawasan keagamaan dengan baik (beragama dengan moderat), menguatkan ideologi politik pancasila, peningkatan wawasan kebangsaan, meningkatkan kesejahteraan dan tidak melupakan sejarah.

*****

*anwi/ pjmi/ wi/ nf/ 300926

Views: 1

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 4
  • 3
  • 83
  • 62
  • 410
  • 4,105
  • 78,311
  • 78,311
  • 153,562
  • 1
  • 4,905
  • 270