
WARTA IDAMAN

Oleh Mochamad Ade Maulidin
Dari Perjalanan Sejarah Menuju Pertanyaan Masa Depan
Enam puluh tahun Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bukan sekadar momentum untuk mengenang perjalanan organisasi.
Enam dekade merupakan rentang sejarah yang cukup panjang untuk mengajukan pertanyaan yang lebih fundamental yakni apa relevansi KAHMI bagi masa depan kedaulatan bangsa ketika medan politik telah berubah dari ruang-ruang institusional menuju ruang komunikasi digital yang semakin terfragmentasi?
KAHMI diresmikan pada 17 September 1966 di Surakarta, Jawa Tengah (Jateng) dalam rangkaian Kongres VIII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Pada fase awal, KAHMI berfungsi sebagai wadah informasi, konsultasi, dan kekeluargaan alumni HMI.
Dalam perkembangannya, KAHMI kemudian menjadi organisasi kemasyarakatan yang berdiri sendiri secara organisatoris dari HMI pada 1987.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa KAHMI sejak awal bukan semata-mata organisasi yang mengelola hubungan alumni.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Robbi zidnii 'ilman warzuqnii fahmaa.
Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan dan berilah aku pemahaman yang baik.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- 5 Tips Konsisten Hijrah dalam Kehidupan Sehari-hari agar Tetap Istiqomah
- Kajian Kitab Al-Hikam #2
- Ketum Al Washliyah: Teladani Kepemimpinan Amanah dan Keadilan Ekonomi Rasulullah
- Amal sedikit penuh kesadaran Ilahi lebih baik dari pada banyak amal dengan kesombongan diri
- Maulid Barokah Munajat kami pada MU, Yaa Allah
- Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan Fajar
Ia lahir dari kebutuhan mempertahankan kesinambungan gagasan, jaringan, dan pengabdian setelah kader HMI memasuki kehidupan profesi dan masyarakat.
Namun konteks 1966 dan 2026 sangat berbeda.
Pada 1966, pertarungan gagasan terutama berlangsung melalui organisasi, kampus, media massa, mimbar politik dan institusi negara.
Pada 2026, pertarungan gagasan berlangsung secara simultan melalui televisi, portal berita, media sosial (medsos), podcast, platform video, mesin pencari, artificial intelligence (AI), algoritma rekomendasi, dan jaringan digital.
Dengan demikian, persoalan kedaulatan bangsa juga mengalami transformasi.
Kedaulatan tidak lagi semata-mata menyangkut wilayah teritorial, sumber daya ekonomi atau kemampuan negara mempertahankan kepentingan nasional.
Kedaulatan juga menyangkut siapa yang mampu menentukan agenda publik, memproduksi pengetahuan, membingkai realitas, menguasai jaringan komunikasi dan membentuk persepsi masyarakat mengenai masa depan bangsa.
Di sinilah perspektif komunikasi politik menjadi penting.
Pergeseran Makna Kedaulatan
Dalam perspektif klasik, kedaulatan sering ditempatkan dalam hubungan antara negara, wilayah, kekuasaan dan otoritas.
Namun, masyarakat informasi mengubah cara kekuasaan bekerja.
Manuel Castells menjelaskan kemunculan network society, yaitu struktur sosial yang karakteristiknya sangat dipengaruhi oleh jaringan yang ditopang teknologi informasi.
>>> ke Halaman 2
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- Al Washliyah Gelar Seminar Internasional Haji dan Umroh Didahului Pelantikan Pimpinan UNIVA Medan
- Pameran Kaligrafi Internasional 2026 di Semarang Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara
- 15 Negara Hadir di IICF 5th, 3.500 Penari Siap Guncang Ancol dengan Semarak Jali-Jali
- FFP Universitas Paramadina Bawa Perspektif Lintas Disiplin ke Malaysia, Bekali Calon Mutawwif Hadapi Tantangan Global
- Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI
- Mentan Amran di Muktamar V Wahdah Islamiyah: Indonesia Swasembada Pangan, Ekspor Beras Hingga ASEAN dan 10 Ribu Ton ke Palestina
- Kemenhaj Buka Seleksi PPIH Arab Saudi 2027, Tekankan Integritas dan Profesionalisme
Views: 0




















