Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- 60 Tahun KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa: Transformasi Modal Sosial Menjadi Kekuatan Komunikasi Politik pada Era Network Society
- Kalimantan Selatan: Gelap di Lumbung Energi
- KEMENANGAN TALIBAN, HTS, DAN HOUTHI
- PANDUAN SAINS DAN REGULASI CUACA SERTA ARUS LAUT BAGI NAKHODA
- Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara
- MENERAPKAN PANCA CINTA DALAM KURIKULUM MERDEKA
Dalam masyarakat jaringan, kekuasaan tidak hanya berada pada pusat-pusat institusi formal.
Kekuasaan juga berada pada kemampuan mengendalikan arus informasi.
Siapa yang mampu menghubungkan aktor dengan aktor lain?
Siapa yang mampu membuat sebuah isu menjadi perhatian publik?
Siapa yang mampu memproduksi pengetahuan?
Siapa yang memiliki akses kepada jaringan media?
Siapa yang mampu membangun komunitas digital?
Dan siapa yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi agenda kebijakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan komunikasi politik.
Karena itu, kedaulatan bangsa pada era network society dapat dibaca sebagai kemampuan masyarakat dan negara untuk tetap memiliki kapasitas menentukan agenda, makna dan arah pembicaraan mengenai kepentingan nasional di tengah arus komunikasi global.
Dalam konteks tersebut, KAHMI mempunyai modal yang tidak kecil yakni jaringan alumni lintas profesi, lintas generasi, dan lintas sektor kehidupan.
Persoalannya bukan semata-mata apakah modal tersebut tersedia.
Persoalannya adalah bagaimana modal tersebut dikonversi menjadi kekuatan komunikasi publik?
Fundamental Komunikasi Politik
Harold D. Lasswell menawarkan formula klasik komunikasi:
Who says what, in which channel, to whom, with what effect?
Formula tersebut tetap relevan untuk membaca strategi komunikasi politik KAHMI.
Lasswell memetakan komunikasi melalui komunikator, pesan, saluran, khalayak dan efek yang ditimbulkan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Danrem 072/Pamungkas Buka Open Tournament Panjat Tebing Piala Panglima TNI
- Sambut Suahasil Nazara Jadi Menkeu, Fauzi Amro : Prudent dan Paham Fiskal
- Danrem 072/Pamungkas Hadiri Pembukaan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026
- Tanggap Darurat Insiden KMP Virgo Transport 8, Kemenhub Koordinasikan Operasi SAR dan Evakuasi Korban
- Antisipasi Dampak Abu Vulkanik, Polres Jakbar Siapkan 9 Posko Kesehatan untuk Layani Masyarakat
- ANTARA Perkuat Koordinasi dengan Instansi Terkait Cari Pewarta Foto Hilang Kontak
Jika formula tersebut diterapkan kepada KAHMI, terdapat lima pertanyaan strategis.
Pertama, who?
Siapa yang berbicara atas nama kepentingan kebangsaan?
KAHMI mempunyai alumni yang bergerak dalam berbagai profesi dan sektor. Namun, keberagaman tersebut juga menghasilkan persoalan representasi yakni apakah seorang alumni berbicara sebagai individu, akademisi, profesional, pejabat, politisi, atau sebagai bagian dari institusi KAHMI?
Kedua, says what?
Apa pesan yang hendak dibawa?
Apakah KAHMI hanya bereaksi terhadap isu yang sedang viral atau memiliki agenda komunikasi jangka panjang mengenai pendidikan, demokrasi, ekonomi, teknologi, keadilan sosial, Islam dan kebangsaan?
Ketiga, in which channel?
Melalui saluran apa pesan disampaikan?
Di era digital, KAHMI tidak dapat hanya mengandalkan forum tatap muka, seminar dan media konvensional. Kanal digital harus menjadi bagian dari arsitektur komunikasi organisasi.
Keempat, to whom?
Siapa khalayaknya?
Generasi muda tentu membutuhkan bahasa komunikasi yang berbeda dengan birokrasi, akademisi, media atau masyarakat umum.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 0





















