Beranda / KOLOM / 60 Tahun KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa: Transformasi Modal Sosial Menjadi Kekuatan Komunikasi Politik pada Era Network Society

60 Tahun KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa: Transformasi Modal Sosial Menjadi Kekuatan Komunikasi Politik pada Era Network Society

Dengan demikian, KAHMI tidak sekadar menjadi komunikator politik, tetapi infrastruktur komunikasi publik.
Siapa yang Menentukan Persoalan Bangsa?
Maxwell McCombs melalui teori agenda-setting menunjukkan pentingnya media dalam menentukan isu yang memperoleh perhatian publik.

Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi memiliki peran dalam menentukan isu apa yang ditempatkan di pusat perhatian masyarakat.

Dalam konteks KAHMI, pertanyaan agenda-setting menjadi sangat strategis yakni
Apakah KAHMI hanya mengikuti agenda media, atau mampu membangun agenda publik sendiri?

Jika setiap hari komunikasi organisasi hanya merespons isu yang sedang viral, maka KAHMI berada dalam posisi sebagai agenda follower.

Sebaliknya, jika KAHMI mampu mengidentifikasi persoalan strategis sebelum menjadi isu besar dan kemudian memasukkannya ke dalam diskursus publik, KAHMI dapat memainkan peran sebagai agenda builder.

Misalnya, AI dan masa depan pekerjaan, ketahanan pangan, pendidikan tinggi, Kesenjangan digital, etika AI, demokrasi digital, kedaulatan data, ekonomi umat, kepemimpinan generasi muda, literasi politik, reformasi birokrasi, dan masa depan masyarakat Indonesia di tengah perubahan geopolitik.

Isu-isu tersebut tidak harus dikomunikasikan sebagai slogan. Ia harus dikembangkan melalui riset.

Karena itu, salah satu agenda strategis KAHMI setelah 60 tahun adalah membangun National Public Agenda Observatory—sebuah ekosistem kajian yang memetakan isu, opini publik, pemberitaan media, percakapan digital dan perkembangan kebijakan.

KAHMI tidak hanya bertanya yakni “Apa yang sedang ramai?”, tetapi “Apa yang akan menjadi persoalan bangsa lima atau sepuluh tahun mendatang?”

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut adalah perbedaan antara komunikasi reaktif dan komunikasi strategis.

Pertarungan Bukan Hanya atas Isu, tetapi atas Makna
Agenda setting menjelaskan isu apa yang menjadi perhatian. Framing menjelaskan bagaimana isu tersebut dipahami.

Robert M. Entman menjelaskan framing melalui proses seleksi dan salience—memilih aspek tertentu dari realitas dan membuatnya lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi.

Karena itu, pertarungan komunikasi politik bukan hanya “Apa yang dibicarakan?” tetapi juga:
“Dengan kerangka apa persoalan tersebut dibicarakan?”

Misalnya, persoalan generasi muda dapat dibingkai sebagai masalah pengangguran, tetapi dapat pula dibingkai sebagai persoalan transformasi ekonomi digital.
AI dapat dibingkai sebagai ancaman pekerjaan, tetapi dapat pula dibingkai sebagai instrumen peningkatan produktivitas.

Islam dapat dibingkai hanya sebagai identitas, tetapi dapat pula dibingkai sebagai sumber etika sosial, intelektualitas dan pengabdian kebangsaan.

Politik dapat dibingkai sebagai perebutan kekuasaan, tetapi dapat pula dibingkai sebagai mekanisme distribusi sumber daya dan pengambilan keputusan publik.

Di sinilah KAHMI perlu memiliki capacity of framing, bukan untuk memanipulasi publik.

BACA JUGA:

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Tragedi di Istana Kerajaan Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_

SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Menghilang_

Melainkan untuk memastikan bahwa kompleksitas persoalan bangsa tidak direduksi oleh narasi yang terlalu sederhana.
KAHMI membutuhkan kemampuan memproduksi evidence-based framing yakni framing yang dibangun berdasarkan data, riset dan argumentasi.

Dari Struktur Organisasi Menuju Network Society
KAHMI dibangun melalui jaringan alumni, tetapi jaringan pada era digital memiliki makna yang berbeda dengan jaringan pada era sebelumnya.

Castells menjelaskan network society sebagai bentuk struktur sosial yang menjadi karakteristik era informasi.

Dalam network society, kekuatan tidak hanya ditentukan oleh ukuran organisasi, tetapi oleh posisi dalam jaringan.

Sebuah organisasi dapat memiliki struktur besar tetapi memiliki pengaruh terbatas apabila jejaring komunikasinya tidak aktif.

Sebaliknya, jaringan yang relatif cair dapat memiliki pengaruh besar apabila mampu menghubungkan banyak aktor, gagasan dan sumber daya.

Karena itu, KAHMI perlu mengembangkan konsep sebagai berikut
KAHMI sebagai Network of Knowledge
Alumni tidak hanya diposisikan sebagai anggota, tapi mereka menjadi nodes of knowledge.

Kemudian, alumni akademisi menjadi node pengetahuan dan alumni birokrat menjadi node kebijakan.

Selanjutnya, alumni media menjadi node komunikasi dan alumni pengusaha menjadi node ekonomi.

Lalu, alumni aktivis menjadi node masyarakat sipil, alumni teknologi menjadi node transformasi digital, dan alumni muda menjadi node generasi baru.

Apabila node-node tersebut dihubungkan melalui agenda bersama, KAHMI dapat berkembang menjadi knowledge network yang mempunyai kemampuan memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan ke ruang publik.

Konsekuensinya, struktur komunikasi KAHMI tidak lagi semata-mata yakni pusat → daerah → alumni.

Namun menjadi alumni ↔ alumni ↔ masyarakat ↔ institusi ↔ media ↔ pemerintah ↔ generasi muda. Itulah logika network society.

Mengubah Modal Sosial Menjadi Modal Simbolik
Pierre Bourdieu memberikan konsep penting mengenai berbagai bentuk modal, termasuk social capital dan cultural capital.

Modal sosial berkaitan dengan sumber daya yang diperoleh melalui jaringan hubungan sosial dab konsep ini menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasannya mengenai bentuk-bentuk modal.

Jika diterapkan pada KAHMI, jaringan alumni merupakan bentuk modal sosial yang sangat penting.

Namun modal sosial tidak otomatis menghasilkan pengaruh publik.
Ia harus dikonversi.
Jaringan → kolaborasi.
Kolaborasi → produksi pengetahuan.
Pengetahuan → komunikasi publik.
Komunikasi publik → legitimasi.
Legitimasi → kemampuan memengaruhi agenda kebijakan. Inilah yang dapat disebut sebagai conversion of capital.

KAHMI memiliki modal sosial, karena memiliki jaringan, memiliki modal kultural karena memiliki tradisi intelektual.

KAHMI juga memiliki modal simbolik melalui sejarah dan identitas organisasi.

Tetapi pertanyaan strategisnya adalah Apakah modal tersebut telah dikonversi menjadi public value?

Jika belum, maka jaringan besar hanya menjadi potensi. Kedaulatan bangsa membutuhkan potensi yang diubah menjadi kapasitas.

Dari Political Communication Menuju Policy Communication
KAHMI perlu bergerak dari sekadar political communication menuju policy communication.

Political communication sering berhubungan dengan perebutan perhatian, legitimasi, dukungan dan pengaruh politik.

Views: 0

Halaman: 1 2 3 4 5

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  WARTAIDAMAN.com        السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ اَللَّٰہُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَیٰ سَیِّدِنَا مُحَمَّدِِ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍﷺ Hadiah Terindah di Sepertiga Malam dan F...

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 13
  • 6
  • 122
  • 91
  • 722
  • 13,504
  • 76,404
  • 76,404
  • 152,017
  • 0
  • 4,838
  • 270