Beranda / KOLOM / Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara

Musrenbang tidak Hanya Sekadar Ritual: Menagih Hak Rakyat Miskin atas Anggaran Negara

Belajar dari Porto Alegre: Partisipasi yang Nyata

Taufiqurrahman menawarkan cermin dari Brasil. Sejak 1989, Kota Porto Alegre menerapkan participatory budgeting yang menjadi rujukan Bank Dunia. Di sana, warga tidak sekadar membawa daftar permintaan; mereka diberi informasi kemampuan keuangan pemerintah, ikut membahas kebutuhan, menentukan prioritas, memilih perwakilan, dan mengawasi pelaksanaan.

Prinsip kuncinya bukan pada pemenuhan semua permintaan, melainkan keberanian pemerintah membuka “dapur” anggaran kepada publik. Yang lebih penting lagi, Porto Alegre mengakui bahwa “sama rata belum tentu adil”. Wilayah yang lebih miskin dan tertinggal selayaknya mendapat porsi anggaran lebih besar. Logika afirmatif ini sangat relevan untuk Indonesia, di mana ketimpangan antarwilayah masih menjadi tantangan utama.

Transparansi Digital dan Kontrak Politik

Reformasi Musrenbang menuntut lebih dari sekadar digitalisasi. Aplikasi e-Musrenbang jangan sampai hanya menggantikan formulir kertas sementara keputusan tetap tertutup di balik pintu birokrasi. Warga harus bisa melacak status usulannya secara real-time: diterima, ditolak, ditunda, atau diteruskan. Jika ditolak, alasan transparan wajib diberikan. Kriteria penilaian—apakah berdasarkan jumlah penerima manfaat, tingkat kemiskinan, atau urgensi—harus jelas dan terbuka.

Views: 1

Halaman: 1 2 3

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 5
  • 4
  • 113
  • 57
  • 552
  • 13,959
  • 75,800
  • 75,800
  • 151,583
  • 1
  • 4,812
  • 270