Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
- Hikmah dari Neutrino: Menangkap Energi Ilahi dengan Qalbun Salim
- Masyhuril Khamis Imbau Jemaah Umrah Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
- Pasca-Polemik Statement Bulan Dana PMI Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung: Ramdansyah Dorong 5 Langkah Strategis Pembenahan Tata Kelola Kemanusiaan di Jakarta
- Bantah Isu Tebang Pilih, Polisi Watch Minta Insan Pers Tetap Objektif
- Ketika “Upload” Medsos Mengalahkan Substansi, dan Jurnalis Dianggap Musuh
Usai acara selamatan selanjutnya kapal atau perahu disiram dengan air yang terlebih dahulu didoakan yang dicampur aneka bunga tak lupa dihaluan kapal atau perahu diperceki darah hewan yang disembelih.
Yang cukup menarik tradisi ini diakui dan dipercaya pemeluk agama lain selain Islam.Sebagian besar pemilik kapal atau perahu warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu.
Saya ada beberapa kali mengikuti tradisi menanam kepala hewan di Ujung Pandaran yang terkenal dengan pasir putihnya dan ombaknya tidak bergelora.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Pertamina Gandeng Pemprov dan Polda Sulut, Distribusi BBM Dipercepat
- Kapolres Bantul Gelar Jumat Keliling di Pandak, Siapkan Petugas Penyeberangan Pelajar
- Subuh Penuh Makna, Kapolda Gorontalo Perkuat Silaturahmi dengan Masyarakat
- Masyhuril Khamis Harap Wajib Halal Tahap Kedua Konsisten Dilaksanakan
- Raih Top GPR Figure Award 2026, Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag
- Ketum Al Washliyah Masyhuril Khamis Apresiasi Langkah Kapolri yang Dekat dengan Rakyat, Ulama, dan Pesantren
Menanam kepala sapi adalah tradisi adat yang dilakukan di beberapa tempat, seperti di lereng Gunung Semeru dan di Palu. Tradisi menanam kepala sapi di lereng Gunung Semeru. Tradisi ini dilakukan setiap 1 Sura di hutan bambu. Tradisi menanam kepala sapi di Palu. Potongan kepala sapi ditanam di kawasan pembangunan Masjid Raya Darussalam Palu.
Tradisi menanam kepala kerbau. Tradisi ini dilakukan di Desa Temulus, Kudus.
Kepala kerbau, empat kaki, dan ekornya ditanam di Balong Simpan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur terhadap hasil panen. Tujuannya agar hasil panen petani di Desa Temulus mengalami peningkatan di tahun selanjutnya.
*****
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Azis Khafia : Kiyai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia telah Berpulang Ke Rahmatullah
- Forkomnas Ormas Islam Nasional Sampaikan Sikap atas Tiga Isu: Serangan ke Tanah Suci, Pelarangan Jilbab, dan Rencana Konser
- Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Universitas Paramadina Soroti Pentingnya Penguatan Fondasi Komunikasi Publik & Komunikasi Empati
- [CEK FAKTA] TNI Siapkan Strategi Terjun Payung Langsung ke Titik Api, Apakah Benar?
- TABAYYUN DI ERA AI, REALITAS MEDIA TIDAK SAMA DENGAN REALITAS SOSIAL
- Diresmikan 9 Oktober, Masjid Annur Siti Aminah Jadi Pusat Pembinaan Mualaf di Pedalaman Donggala
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

Views: 9






















