Beranda / SEMESTA / Abad Kedua Gontor, Prof Hamid Fahmy Soroti Tantangan Soft Skill Lulusan Pesantren

Abad Kedua Gontor, Prof Hamid Fahmy Soroti Tantangan Soft Skill Lulusan Pesantren

Dalam konsep tersebut, mahasiswa tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi tinggal dalam lingkungan asrama yang terintegrasi dengan sistem pendidikan kampus. Interaksi antara mahasiswa dengan dosen dan pimpinan universitas berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

“Mahasiswa tinggal di dalam asrama di dalam kampus yang sama, dengan sistem kehidupan yang sama,” ujarnya.

Hamid menyebut model tersebut sebagai pesantren mahasiswa yang sesungguhnya. Sistem tersebut diharapkan dapat membentuk lingkungan belajar yang berlangsung secara intensif dan tidak terbatas pada jam perkuliahan.

Mahasiswa juga tetap diberi kesempatan berinteraksi dengan dunia luar, termasuk melalui program pertukaran mahasiswa ke sejumlah negara. Namun, kebebasan tersebut tetap diiringi disiplin dan pembinaan karakter.

Ia menilai kehidupan berasrama juga memberikan ruang lebih besar untuk mengembangkan kepemimpinan, kerja sama, organisasi, olahraga, kewirausahaan, serta berbagai potensi mahasiswa.

Hamid menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus mampu menemukan dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu.

Ia mengutip konsep kecerdasan majemuk yang menunjukkan bahwa kemampuan matematika bukan satu-satunya ukuran kecerdasan seseorang. Kemampuan interpersonal, musik, kepemimpinan, dan bidang lainnya juga dapat menjadi modal kesuksesan.

“Multitalenta. Dan itu bisa dikembangkan di dalam sistem yang holistik tadi,” katanya.

Tantangan lainnya, lanjut Hamid, datang dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, lembaga pendidikan tidak mungkin menghentikan perkembangan teknologi tersebut. Yang lebih penting adalah membangun cara pandang yang tepat dalam menggunakan AI.

Di perguruan tinggi, mahasiswa perlu tetap didorong untuk berpikir dan menulis secara mandiri. Penggunaan teknologi tidak boleh menghilangkan proses intelektual yang menjadi bagian utama pendidikan.

“Tantangannya adalah bagaimana kalau dia menulis itu, dia menulis secara independen, bukan menggunakan AI,” ujar Hamid.

Karena itu, Hamid menilai abad kedua Gontor membutuhkan penguatan sistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan dengan keunggulan akademik sekaligus kepemimpinan dan karakter.

Menurut dia, lulusan perguruan tinggi pesantren ke depan harus memiliki identitas dan kompetensi yang jelas, baik sebagai cendekiawan, pemimpin, pengusaha, maupun profesional di bidang yang ditekuni.

Pendidikan tersebut, kata Hamid, harus tetap berangkat dari sistem kehidupan pesantren, tetapi mampu menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah.*

BACA JUGA di WARTA IDAMAN:

RILIS 3

*ibsy/ pjmi/ wi/ nf/ 040926

Views: 1

Halaman: 1 2

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 4
  • 3
  • 162
  • 124
  • 1,477
  • 17,250
  • 167,625
  • 255,727
  • 151,222
  • 1
  • 4,786
  • 270