Dalam konsep tersebut, mahasiswa tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi tinggal dalam lingkungan asrama yang terintegrasi dengan sistem pendidikan kampus. Interaksi antara mahasiswa dengan dosen dan pimpinan universitas berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Mahasiswa tinggal di dalam asrama di dalam kampus yang sama, dengan sistem kehidupan yang sama,” ujarnya.
Hamid menyebut model tersebut sebagai pesantren mahasiswa yang sesungguhnya. Sistem tersebut diharapkan dapat membentuk lingkungan belajar yang berlangsung secara intensif dan tidak terbatas pada jam perkuliahan.
- Perpustakaan Pusat UIA Gelar Seminar & Diskusi : Menggali Ketauladanan Nabi Muhammad SAW Sebagai Sumber Literasi
- Abad Kedua Gontor, Prof Hamid Fahmy Soroti Tantangan Soft Skill Lulusan Pesantren
- Petugas Gabungan Evakuasi Penghuni Saat Kebakaran Apartemen Pavilion Tanah Abang
- Dinas Pendidikan Musi Banyuasin dan UIA Bahas Pengembangan Budaya Riset Pendidikan
- Di Forum SAJID, Prof Hamid Fahmy Ungkap Kunci Gontor Bertahan 100 Tahun
- UBN: 75 Persen Karakter Saya Dibentuk Pendidikan Gontor
- Ust Hilal Tausiah Maulid di SDN Kelapa Dua Wetan 04 Pagi ,Ajak Tiru Akhlak Mulia Nabi Sejak Dini Lewat Keteladanan
- KAMPUS UNAS DEBAT KEMBALI KE UUD 45 ASLI
- Al Washliyah Apresiasi Muktamar NU ke-35 yang Berjalan Lancar, Sistem AHWA Model Pemilihan Terbaik
Mahasiswa juga tetap diberi kesempatan berinteraksi dengan dunia luar, termasuk melalui program pertukaran mahasiswa ke sejumlah negara. Namun, kebebasan tersebut tetap diiringi disiplin dan pembinaan karakter.
Ia menilai kehidupan berasrama juga memberikan ruang lebih besar untuk mengembangkan kepemimpinan, kerja sama, organisasi, olahraga, kewirausahaan, serta berbagai potensi mahasiswa.
Hamid menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus mampu menemukan dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu.
Ia mengutip konsep kecerdasan majemuk yang menunjukkan bahwa kemampuan matematika bukan satu-satunya ukuran kecerdasan seseorang. Kemampuan interpersonal, musik, kepemimpinan, dan bidang lainnya juga dapat menjadi modal kesuksesan.
“Multitalenta. Dan itu bisa dikembangkan di dalam sistem yang holistik tadi,” katanya.
Tantangan lainnya, lanjut Hamid, datang dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, lembaga pendidikan tidak mungkin menghentikan perkembangan teknologi tersebut. Yang lebih penting adalah membangun cara pandang yang tepat dalam menggunakan AI.
Di perguruan tinggi, mahasiswa perlu tetap didorong untuk berpikir dan menulis secara mandiri. Penggunaan teknologi tidak boleh menghilangkan proses intelektual yang menjadi bagian utama pendidikan.
“Tantangannya adalah bagaimana kalau dia menulis itu, dia menulis secara independen, bukan menggunakan AI,” ujar Hamid.
Karena itu, Hamid menilai abad kedua Gontor membutuhkan penguatan sistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan dengan keunggulan akademik sekaligus kepemimpinan dan karakter.
Menurut dia, lulusan perguruan tinggi pesantren ke depan harus memiliki identitas dan kompetensi yang jelas, baik sebagai cendekiawan, pemimpin, pengusaha, maupun profesional di bidang yang ditekuni.
Pendidikan tersebut, kata Hamid, harus tetap berangkat dari sistem kehidupan pesantren, tetapi mampu menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah.*
BACA JUGA di WARTA IDAMAN:
- ADAM MUSTHOFA: Pemuda Langit
- SHANDY DAN EMPAT KALI PERJUSA YANG BELUM PERNAH TAMAT
- SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Perang Kediri_
- Bulan Dana PMI: Antara Kesukarelaan dan Kewajiban
- SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ramai-Ramai Menuju Kediri_
- Sekjen Al Jam’iyatul Washliyah Prof.DR.H.Saifuddin Herlambang S.Ag.,MA,: Alwashliyah Organisasi Perekat
- LOMBA NYANYI TARI FASHION DI CAFE TERAS MANGGA KEBON JERUK
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com
RILIS 3
*ibsy/ pjmi/ wi/ nf/ 040926
Views: 1

























