Dalam konsep tersebut, mahasiswa tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi tinggal dalam lingkungan asrama yang terintegrasi dengan sistem pendidikan kampus. Interaksi antara mahasiswa dengan dosen dan pimpinan universitas berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Mahasiswa tinggal di dalam asrama di dalam kampus yang sama, dengan sistem kehidupan yang sama,” ujarnya.
Hamid menyebut model tersebut sebagai pesantren mahasiswa yang sesungguhnya. Sistem tersebut diharapkan dapat membentuk lingkungan belajar yang berlangsung secara intensif dan tidak terbatas pada jam perkuliahan.
- Rehab Panti Asuhan Al Marina, Korem 072/Pamungkas Hadirkan Lingkungan Lebih Layak dan Nyaman bagi Anak-anak
- FORKOMNAS Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, Tegaskan Komitmen Bela Palestina
- Dakwah Era Digital Menuju Indonesia Emas,IMMI DKI Jakarta Gandeng Kemenag DKI Jakarta Gelar Pelatihan dan Lomba Dakwah Digital
- Peringatan Maulid Nabi di Uhamka Hadirkan Da’i Pantura KH. Afief Mustofa Al Jawawi
- DPD RI Gelar Diskusi Publik di Kampus UIA, Prof. Dailami: Mempekuat Persiapan Pengawasan Pemilu 2029
- Jumat Keliling di Masjid Bersejarah Babadan Baru, Kapolda DIY Dengarkan Aspirasi Warga dari Petasan hingga Keselamatan Jalan
- Peringati Hari Santri Nasional, PP Santri Pasundan Silaturahmi dengan Kapolda Jawa Barat Irjen. Pol. Hengki, S.I.K., M.H
- Laznas Dewan Dakwah Jangkau 1.476 Santri di 59 Pesantren, Rawat Harapan dari Penjuru Negeri
- PERMEL Kolaborasi dengan Bawaslu DKI Jakarta, Perkuat Edukasi dan Partisipasi Demokrasi Mahasiswa
Mahasiswa juga tetap diberi kesempatan berinteraksi dengan dunia luar, termasuk melalui program pertukaran mahasiswa ke sejumlah negara. Namun, kebebasan tersebut tetap diiringi disiplin dan pembinaan karakter.
Ia menilai kehidupan berasrama juga memberikan ruang lebih besar untuk mengembangkan kepemimpinan, kerja sama, organisasi, olahraga, kewirausahaan, serta berbagai potensi mahasiswa.
Hamid menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki potensi yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus mampu menemukan dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki setiap individu.
Ia mengutip konsep kecerdasan majemuk yang menunjukkan bahwa kemampuan matematika bukan satu-satunya ukuran kecerdasan seseorang. Kemampuan interpersonal, musik, kepemimpinan, dan bidang lainnya juga dapat menjadi modal kesuksesan.
“Multitalenta. Dan itu bisa dikembangkan di dalam sistem yang holistik tadi,” katanya.
Tantangan lainnya, lanjut Hamid, datang dari perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, lembaga pendidikan tidak mungkin menghentikan perkembangan teknologi tersebut. Yang lebih penting adalah membangun cara pandang yang tepat dalam menggunakan AI.
Di perguruan tinggi, mahasiswa perlu tetap didorong untuk berpikir dan menulis secara mandiri. Penggunaan teknologi tidak boleh menghilangkan proses intelektual yang menjadi bagian utama pendidikan.
“Tantangannya adalah bagaimana kalau dia menulis itu, dia menulis secara independen, bukan menggunakan AI,” ujar Hamid.
Karena itu, Hamid menilai abad kedua Gontor membutuhkan penguatan sistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan dengan keunggulan akademik sekaligus kepemimpinan dan karakter.
Menurut dia, lulusan perguruan tinggi pesantren ke depan harus memiliki identitas dan kompetensi yang jelas, baik sebagai cendekiawan, pemimpin, pengusaha, maupun profesional di bidang yang ditekuni.
Pendidikan tersebut, kata Hamid, harus tetap berangkat dari sistem kehidupan pesantren, tetapi mampu menjawab kebutuhan zaman yang terus berubah.*
BACA JUGA di WARTA IDAMAN:
- Dari Gen Alpha hingga Gen X, Parade Penyair Jendela Puspita Gaungkan Gelora Sumpah Pemuda
- Kejurda Floorball AFI DKI 2026 Dimulai 24 Oktober: Bidik Atlet Berbakat untuk Kejurnas dan PON
- Refleksi Hari Santri Nasional: Dari Ideologi ke Imagogi, Ketika Perjuangan Tergantikan oleh Pencitraan
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Lestarikan Budaya Nusantara, 35 Penari Muda Sanggar KR Dinisha Unjuk Gigi di Kantor Kelurahan Cipayung Jaya
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com
RILIS 3
*ibsy/ pjmi/ wi/ nf/ 040926
Views: 3






















