Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- Kemenhaj Dalami Dugaan Jual Beli Porsi Haji di Jawa Timur, Enam Pelimpahan Terindikasi Bermasalah
- Al Washliyah Gelar Seminar Internasional Haji dan Umroh Didahului Pelantikan Pimpinan UNIVA Medan
- Pameran Kaligrafi Internasional 2026 di Semarang Hadirkan 250 Karya dari 50 Negara
- 15 Negara Hadir di IICF 5th, 3.500 Penari Siap Guncang Ancol dengan Semarak Jali-Jali
- FFP Universitas Paramadina Bawa Perspektif Lintas Disiplin ke Malaysia, Bekali Calon Mutawwif Hadapi Tantangan Global
- Momentum Muktamar V Wahdah Islamiyah Hadirkan Kebahagiaan Anak-Anak Gaza di Bulan Kemerdekaan RI
- Mentan Amran di Muktamar V Wahdah Islamiyah: Indonesia Swasembada Pangan, Ekspor Beras Hingga ASEAN dan 10 Ribu Ton ke Palestina
Keberagaman tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan hidup penyintas tidak berhenti pada diagnosis atau kondisi yang pernah mereka alami. Mereka memiliki pendidikan, pengalaman kerja, keterampilan, dan kemampuan yang dapat terus dikembangkan.
Melalui kegiatan seperti ini, mereka mendapatkan ruang untuk kembali membangun kepercayaan diri dan menyadari bahwa mereka tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi.
Pada sesi penutupan, para peserta menyampaikan kesan dan pesan yang positif. Mereka merasakan kebersamaan, mendapatkan pengalaman baru, serta memperoleh kesempatan untuk belajar menghadapi diri sendiri dan lingkungan.
Sebagian peserta juga menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sampai dua hari kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan dengan pendampingan dan kegiatan berikutnya.
Harapan tersebut menjadi catatan penting bahwa proses pemulihan membutuhkan kesinambungan. Kegiatan dua hari dapat menjadi pemantik semangat, tetapi proses untuk membangun kemandirian, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, dan kembali produktif membutuhkan pendampingan yang terus-menerus.
Menanggapi harapan para peserta, Dita menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah upaya pembinaan yang berkelanjutan.
Yayasan Mutiara Semesta Abadi berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan bersama keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dunia usaha, masyarakat, dan terutama mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- PENGHAPUSAN UKT PTN DAN MENJAGA EKSISTENSI PTS
- Rilis Tanggapan atas Pidato Presiden yang Viral
- Azis Khafia: Rapat Raksasa IKADA 1945 Ungkap Peran Kaum Betawi
- PB FORMULA Apresiasi dan Doakan Mantan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
- 60 Tahun KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa: Transformasi Modal Sosial Menjadi Kekuatan Komunikasi Politik pada Era Network Society
- Kalimantan Selatan: Gelap di Lumbung Energi
Menurut Dita, penyintas skizofrenia bukanlah beban masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan untuk hidup mandiri serta produktif apabila mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang tepat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sosial, tetapi menjadi awal dari perhatian dan langkah nyata yang berkelanjutan.
Kami mengajak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melihat bahwa para penyintas skizofrenia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi untuk pulih, mandiri, bekerja, dan berkarya,” ujar Dita.
Ia berharap dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui program yang berkelanjutan, termasuk pendampingan, pemberdayaan, pelatihan keterampilan, serta ruang bagi para penyintas untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di masyarakat.
“Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan, kepercayaan, pembinaan, pendampingan, dan ruang untuk berkarya. Kami berharap pemerintah dapat hadir lebih nyata melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan, sehingga proses pemulihan tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai. Jangan biarkan mereka berjalan sendiri.
Berikan kesempatan, hadirkan pendampingan, dan bukakan ruang untuk berkarya. Karena ketika para penyintas diberi kesempatan untuk pulih dan produktif, mereka bukan menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari solusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.”
Melalui Tadabbur Alam & Life Skill Education, Yayasan Mutiara Semesta Abadi
bersama KPSI berharap semakin banyak pihak memahami bahwa pemulihan bukan hanya tentang kembali sehat, tetapi juga tentang kembali memiliki harapan, kepercayaan diri, kesempatan untuk berkarya, dan tempat yang layak di tengah masyarakat.
“Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan” bukanh sekadar tema, tetapi sebuah ajakan untuk bergerak Bersama agar tidak ada penyintas yang berjalan sendirian dalam proses pemulihannya.
*****
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*wsu/ pjmi/ wi/ nf/ 130826
Views: 14






















