Beranda / SYIAR HIJRAH / al fana (الفناء) dan al baqa’ (البقاء) dalam tasawuf

al fana (الفناء) dan al baqa’ (البقاء) dalam tasawuf

Kisah ini mengajarkan bahwa manusia tidak mampu melihat wujud Allah di dunia, dan akal manusia terbatas untuk memahami Dzat Allah.

Kisah ini juga sering dikaitkan dengan konsep al-fana dalam sufisme, yaitu fenomena hancurnya diri (ego) dalam penyatuan dengan Tuhan. Meskipun demikian, kisah Nabi Musa lebih menekankan pada ketidakmampuan manusia melihat Allah secara fisik di dunia, bukan pada konsep al-fana secara spiritual.

Dalam konteks al-fana, para sufi meyakini bahwa melalui penyucian diri dan mendekatkan diri kepada Allah, seseorang dapat merasakan kehadiran Allah dalam hati dan jiwanya, meskipun tidak dapat melihat wujud-Nya secara fisik.

Abu Yazid al-Bustami adalah salah satu tokoh sufi yang mempopulerkan konsep fana’ dan baqa’.

Pentingnya Fana’ dan Baqa’:
Konsep fana’ dan baqa’ merupakan inti dari ajaran tasawuf, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.

 ***** 

*anwi/ wi/ nf/ 050825

Views: 123

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 63
  • 58
  • 220
  • 188
  • 1,395
  • 13,335
  • 77,506
  • 77,506
  • 152,900
  • 176
  • 4,862
  • 270