Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
- Hikmah dari Neutrino: Menangkap Energi Ilahi dengan Qalbun Salim
- Masyhuril Khamis Imbau Jemaah Umrah Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
- Pasca-Polemik Statement Bulan Dana PMI Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung: Ramdansyah Dorong 5 Langkah Strategis Pembenahan Tata Kelola Kemanusiaan di Jakarta
- Bantah Isu Tebang Pilih, Polisi Watch Minta Insan Pers Tetap Objektif
- Ketika “Upload” Medsos Mengalahkan Substansi, dan Jurnalis Dianggap Musuh
Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi. Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkar pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Kapolres Bantul Gelar Jumat Keliling di Pandak, Siapkan Petugas Penyeberangan Pelajar
- Subuh Penuh Makna, Kapolda Gorontalo Perkuat Silaturahmi dengan Masyarakat
- Masyhuril Khamis Harap Wajib Halal Tahap Kedua Konsisten Dilaksanakan
- Raih Top GPR Figure Award 2026, Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag
- Ketum Al Washliyah Masyhuril Khamis Apresiasi Langkah Kapolri yang Dekat dengan Rakyat, Ulama, dan Pesantren
- MUI dan Kapolri Perkuat Sinergi, Ustaz Zaitun Rasmin Soroti Pentingnya Kolaborasi Ulama dan Polri
Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Ia meng-set waktu 24 jam sebelum mati. Ia sudah berencana menelan obat yang dia punya sekaligus satu telanan. Namun saat mendekati detik terakhir, Ale melihat label pada botol obatnya, anjuran untuk makan dulu sebelum minum obat. Seketika Ale berpikir untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri.
Namun, rupanya mie ayam yang hendak Ale beli, tidak jualan. Tutup. Rencana Ale untuk mati harus tertunda. Namun ia tetap bertekad untuk mati, setelah makan seporsi mie ayam.
Ale merasa hidupnya sangat sial dari fisik, cinta, pertemanan, hingga keluarga yang justru mematahkan semangatnya. Depresi akut membuatnya ingin mengakhiri hidup. Di hari terakhir, ia habiskan semua uang untuk bersenang-senang. Keinginan terakhirnya adalah makan seporsi mie ayam langganan. Tapi takdir malah menyeretnya ke kejadian tak terduga. Ia terlibat kesalahpahaman hingga masuk penjara. Di sana, hidupnya tak jauh berbeda, sampai Murad datang. Murad adalah tahanan “istimewa” polisi yang mengubah kehidupan Ale dari kepecundangan hingga keberanian lewat tempat yang tidak istimewa, kotor, berdosa, tetapi dari tempat itulah pertama kalinya Ale mendapatkan perlakuan manusiawi dari manusia.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 1909























