Beranda / SEMESTA / Buku Rekomendasi Pekan ini: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Buku Rekomendasi Pekan ini: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Ale, seorang pria berbadan bongsor yang ditolak oleh masyarakat sosial. Tiga puluh tujuh tahun usianya, dia hidup tanpa berteman dan tanpa makna. Ale didiagnosa oleh psikiater mengidap depresi. Di tempat kerjanya, dia tak memiliki rekan dekat, bahkan cenderung dijauhi. Ia punya masalah dengan bau badan karena tubuhnya yang besar lebih sering menghasilkan keringat. Bukannya ia tidak peduli, ia peduli. Ale telah berusaha mengatasi masalah-masalah yang timbul dari dirinya agar ia diterima di lingkar pertemanan. Namun usahanya tidak pernah berhasil. Bahkan keluarganya pun tidak mendukungnya saat Ale membutuhkan sandaran dan dukungan.

Ale memutuskan untuk mati. Ia mempersiapkan kematiannya dengan baik. Agar ketika mati pun, Ale tidak banyak merepotkan orang. Ia meng-set waktu 24 jam sebelum mati. Ia sudah berencana menelan obat yang dia punya sekaligus satu telanan. Namun saat mendekati detik terakhir, Ale melihat label pada botol obatnya, anjuran untuk makan dulu sebelum minum obat. Seketika Ale berpikir untuk makan dulu sebelum mengakhiri hidupnya. Setidaknya, itu akan menjadi satu-satunya keputusan yang bisa dia ambil atas kehendaknya sendiri.

Namun, rupanya mie ayam yang hendak Ale beli, tidak jualan. Tutup. Rencana Ale untuk mati harus tertunda. Namun ia tetap bertekad untuk mati, setelah makan seporsi mie ayam.

Ale merasa hidupnya sangat sial dari fisik, cinta, pertemanan, hingga keluarga yang justru mematahkan semangatnya. Depresi akut membuatnya ingin mengakhiri hidup. Di hari terakhir, ia habiskan semua uang untuk bersenang-senang. Keinginan terakhirnya adalah makan seporsi mie ayam langganan. Tapi takdir malah menyeretnya ke kejadian tak terduga. Ia terlibat kesalahpahaman hingga masuk penjara. Di sana, hidupnya tak jauh berbeda, sampai Murad datang. Murad adalah tahanan “istimewa” polisi yang mengubah kehidupan Ale dari kepecundangan hingga keberanian lewat tempat yang tidak istimewa, kotor, berdosa, tetapi dari tempat itulah pertama kalinya Ale mendapatkan perlakuan manusiawi dari manusia.

Views: 1909

Halaman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 198
  • 169
  • 248
  • 223
  • 1,548
  • 4,894
  • 81,423
  • 81,423
  • 156,292
  • 1,939
  • 4,978
  • 271