Beranda / KOLOM / KEDUDUKAN PEREMPUAN MUSLIMAH SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

KEDUDUKAN PEREMPUAN MUSLIMAH SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Eksistensi manusia di alam semesta adalah hamba Allah yang berkewajiban beribadah kepada Allah selaku Tuhan Yang Maha Esa dan menjalankan semua ajaran kalamullah yang ada di Qur’anul Karim dan Hadits (perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW) salah satu perintah Allah dalam Qur’anul karim adalah menegakkan shalat. Memiliki kesadaran yang tinggi bahwa didalam akal pikiran (kognitif) menuju tazkiyatunnafs (penyucian jiwa) dan tingkah laku motorik (perbuatan) sehingga menjadi pendorong dan penggerak manusia yang bertakwa bahwa falsafah shalat dalam Islam adalah memiliki kedudukan yang tidak dapat ditandingi oleh kedudukan ibadah apa pun.

Insan muttaqin adalah manusia yang bertakwa kepada Allah SWT, takwa secara lughowi adalah” wiqoyah” yang artinya menjalankan perintah Allah SWT, dan menjauhi laranganNya. Orang dikatakan bertakwa apabila kamu merupakan orang-orang yang benar baik, dan senantiasa melakukan kebaikan di manapun berada. Selalu menjaga dirinya dari segala perbuatan dan merasa sanggup mentaati segala perintahNya. Beribadah mendirikan shalat sebagai tonggak agama adalah salah satu ciri insan muttaqin. Rasulullah SAW bersabda menegaskan shalat adalah tiang agama dalam Hadits riwayat Tirmidzi “ Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat. Lebih baik shalat lebih awal, tepat waktu sesudah adzan berkumandang. Karena tandanya shalat dimulai bila sudah mendengar azan. Bagi kita, adzan adalah seruan untuk shalat, jadi kita niatkan hati yang tulus, ikhlas agar shalat diterima Allah SWT. Sempurnakan wudhu, sebelum shalat, karena Allah menyenangi manusia yang senantiasa menyempurnakan wudhunya.diantaranya tentu harus memahami bacaan shalat agar khusyu’. Ketika sujud meletakkan kening ke atas bumi, menyatu dengan bumi sebagai hamba makhluk dan insan muttaqin Allah SWT. Menurut Prof. Achmad, Mubarok, MA dalam bukunya Pada dasarnya tentang manusia dalam Al-Qur’an menggunakan tiga nama yaitu, 1. Insan, 2. Basyar, 3. Bani Adam, Insan, artinya jinak, harmoni, nampak, Basyar berarti pengetahuannya hanya terbatas pada informasi yang Allah berikan melalui wahyu, jadi tidak mengetahui data sejarah masa lalu, tidak terlihat dan hal-hal yang ghaib. Manusia diciptakan Allah dalam keadaan sempurna, diilhami oleh kebaikan dan keburukan, supaya menjadi dorongan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim itu yang meningkatkan keimanan menggapai ketakwaan merekalah ahlu surga, yang mendirikan shalat pada kedua penghujung siang (pagi dan petang) dan sebagian malam, sesungguhnya amalan-amalan yang baik itu dapat menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk. Insan muttaqin adalah manusia yang bertakwa, Takwa secara lughowi berasal dari kata wiqoyah, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT, direalisir dengan semangat pengabdian dan penghambaan, kepatuhan, dan ketaatan, kehangatan dan cinta yang membara di dalam hati sanubari terdalam manusia (min qolbi amik). Berzikir mengingat kepada Allah dengan penuh kerinduan, menyembahnya dengan tawadhu’ (rendah hati), dan kekhusyuan memelihara diri dari segala sesuatu yang mendatangkan kemurkaan dan azab siksaan, memelihara diri agar selalu senantiasa mendapat ridha Allah SWT.

Asal makna shalat menurut Bahasa arab ialah “doa” tetapi yang dimaksud disini adalah “ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan”. Shalat yang diwajibkan bagi tiap-tiap orang dewasa dan berakal ialah lima kali sehari semalam. Mula-mula turunnya perintah wajib salat adalah pada malam Isra’ Mi’raj ke sidratul muntaha dari masjidil haram ke masjidil aqsha. Isra’Mi’raj adalah dua bagian perjalanan penting dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam waktu satu malam saja untuk mendapatkan perintah menunaikan shalat fardhu lima waktu sehari dari Ka’bah (Makkah) Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, melewati tujuh langit ke sidratul muntaha.

Fitrah kejiwaan manusia, sebagai makhluk psikologis, manusia memiliki sifat bawaan universal. Dalam Al-Qur’an, manusia disebut basyar dan sebagai insan. Basyar lebih menunjukkan sifat lahiriah serta persamaannya dengan manusia lain sebagai satu keseluruhan, nama insan menunjuk manusia sebagai makhluk psikologis. Qur’an Surat Asy-Syams ayat 7-10 menyimpulkan bahwa manusia memiliki desain kejiwaan yang sempurna, memiliki potensi untuk memahami kebaikan dan kejahatan, bisa ditingkatkan kualitasnya menjadi suci dan dapat tercemar sehingga menjadi kotor. Sesuai firman Allah “ dan (demi) jiwa serta penyempurnaan ciptaanNya maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (itu) jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.

Views: 23

Halaman: 1 2 3 4 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 162
  • 124
  • 274
  • 239
  • 1,627
  • 4,717
  • 81,940
  • 81,940
  • 156,724
  • 30
  • 4,990
  • 271