Baca Juga di WARTA IDAMAN (6)
- Gugatan Pemadaman Listrik, Forkot Hadirkan Ahli dan Saksi di PTUN Banjarmasin
- Prihatin Karhutla Berkepanjangan, DPW KalSel & DPD Partai Ummat Banjarbaru Salurkan Voucher BBM dan Logistik untuk Relawan
- Krisis Kelistrikan Kalsel: Di Tengah Kabut Asap dan Air Macet, Janji Pemulihan PLN September 2026 Ditagih
- DPW Partai Ummat Kalsel & DPD Banjarbaru Menyampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Mantan Gubernur H. Rudy Ariffin
- BREAKING NEWS: Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
- “Gema Sholawat Bersama Haddad Alwi”, Perwakilan Pengurus DPD Partai Ummat Banjarbaru hadir
Perkembangan Perjuangan Pendidikan Dewi Sartika
Setelah Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata pada tahun 1906, di usianya yang ke-22 tahun, semangat Dewi Sartika dalam mengelola ‘Sekolah Isteri’ menjadi bertambah. Hal ini disebabkan karena suami Dewi Sartika juga memiliki visi dan cita-cita yang sama dengannya dalam menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan mereka dalam membebaskan bangsa dari kebodohan dan penjajahan. Suami Dewi Sartika sendiri adalah seorang guru di sekolah Karang Pamulang, yang saat itu merupakan Sekolah Latihan Guru.
Setelah 6 tahun menjalankan ‘Sekolah Isteri’, akhirnya pada tahun 1910, Dewi Sartika merubah nama ‘Sekolah Isteri’ menjadi ‘Sekolah Kautamaan Isteri.’ Adapun alasan ‘Sekolah Isteri’ menjadi ‘Sekolah Kautamaan Isteri’ adalah agar lebih mencerminkan tujuan pendidikan sekolah tersebut. Dewi Sartika pada waktu itu memiliki harapan bahwa nama baru ini dapat lebih menekankan pada pentingnya menghasilkan perempuan-perempuan yang utama dan berpendidikan, yang tidak hanya terampil dalam urusan rumah tangga tetapi juga memiliki pengetahuan umum dan keterampilan lainnya.
Dewi Sartika berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik, mandiri, luwes dan terampil. Maka dari itulah pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak pula ia berikan di dalam mengajar. Dan untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana, jerih payahnya tidak dirasakan sebagai beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena dia telah berhasil mendidik kaumnya.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Masyhuril Khamis Harap Wajib Halal Tahap Kedua Konsisten Dilaksanakan
- Raih Top GPR Figure Award 2026, Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag
- Ketum Al Washliyah Masyhuril Khamis Apresiasi Langkah Kapolri yang Dekat dengan Rakyat, Ulama, dan Pesantren
- MUI dan Kapolri Perkuat Sinergi, Ustaz Zaitun Rasmin Soroti Pentingnya Kolaborasi Ulama dan Polri
- Kemenhaj Perkuat Integrasi Data Kependudukan untuk Lindungi Hak Jemaah Haji
- Raih Tiga Penghargaan AHI 2026, Kemenag Perkuat Keterbukaan Informasi dan Komunikasi Publik
Akhirnya, mata pelajarannya pun bertambah, termasuk memasak, menyetrika, mencuci, dan membatik yang dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajarannya. Bahkan pada tahun 1911, “Sekolah Kautamaan Isteri” diperluas lagi divisi pengajarannya, sehingga sekolah tersebut dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya, dan bagian kedua menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa pengantarnya.
Karena kepiawaian Dewi Sartika dalam mengelola sekolah tersebut, akhirnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah ‘Sekolah Kautamaan Isteri’ ini menarik perhatian beberapa Wanita priyai di tempat lain di Jawa Barat, serta menarik perhatian Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg. Karena ketertarikan terhadap sekolah besutan sang Djuragan Dewi tersebut, akhirnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda memberikan bantuan pendanaan operasional sekolah kepada Dewi Sartika.
Bermodalkan dukungan positif yang didapatkan dari semua pihak tersebut, maka pada tahun-tahun berikutnya, di beberapa wilayah Jawa Barat, bermunculan beberapa Sekolah Istri (Sekolah khusus pemberdayaan Perempuan pada waktu itu) yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Dan pada tahun 1912 sudah berdiri sekitar 9 Sekolah Isteri di kota-kota dan kabupaten di sekitar jawa Barat. Bahkan pada tahun 1920, Sekolah-sekolah Isteri ini sudah bermunculan hampir di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Bahkan semangat pendidikan ini menyeberang sampai ke ranah Sumatera, tepatnya ke Bukittinggi, dimana Sekolah Kautamaan Istri ini di dirikan oleh Encik Rama Saleh.
>>> ke Halaman 6
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
- Tips Tetap Istiqamah: Cara Menjaga Konsistensi Hijrah Sehari-hari
Views: 24























