Beranda / SEMESTA / DEWI SARTIKA, SANG PENDIDIK DAN PENGANGKAT DERAJAT PEREMPUAN YANG SESUNGGUHNYA DARI TATAR SUNDA

DEWI SARTIKA, SANG PENDIDIK DAN PENGANGKAT DERAJAT PEREMPUAN YANG SESUNGGUHNYA DARI TATAR SUNDA

Perkembangan Perjuangan Pendidikan Dewi Sartika

Setelah Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata pada tahun 1906, di usianya yang ke-22 tahun, semangat Dewi Sartika dalam mengelola ‘Sekolah Isteri’ menjadi bertambah. Hal ini disebabkan karena suami Dewi Sartika juga memiliki visi dan cita-cita yang sama dengannya dalam menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan mereka dalam membebaskan bangsa dari kebodohan dan penjajahan. Suami Dewi Sartika sendiri adalah seorang guru di sekolah Karang Pamulang, yang saat itu merupakan Sekolah Latihan Guru.

Setelah 6 tahun menjalankan ‘Sekolah Isteri’, akhirnya pada tahun 1910, Dewi Sartika merubah nama ‘Sekolah Isteri’ menjadi ‘Sekolah Kautamaan Isteri.’ Adapun alasan ‘Sekolah Isteri’ menjadi ‘Sekolah Kautamaan Isteri’ adalah agar lebih mencerminkan tujuan pendidikan sekolah tersebut. Dewi Sartika pada waktu itu memiliki harapan bahwa nama baru ini dapat lebih menekankan pada pentingnya menghasilkan perempuan-perempuan yang utama dan berpendidikan, yang tidak hanya terampil dalam urusan rumah tangga tetapi juga memiliki pengetahuan umum dan keterampilan lainnya.

Dewi Sartika berusaha keras mendidik anak-anak gadis agar kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik, mandiri, luwes dan terampil. Maka dari itulah pelajaran yang berhubungan dengan pembinaan rumah tangga banyak pula ia berikan di dalam mengajar. Dan untuk menutupi biaya operasional sekolah, ia membanting tulang mencari dana, jerih payahnya tidak dirasakan sebagai beban, tapi berganti menjadi kepuasan batin karena dia telah berhasil mendidik kaumnya.

Akhirnya, mata pelajarannya pun bertambah, termasuk memasak, menyetrika, mencuci, dan membatik yang dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajarannya. Bahkan pada tahun 1911, “Sekolah Kautamaan Isteri” diperluas lagi divisi pengajarannya, sehingga sekolah tersebut dibagi menjadi dua bagian: bagian pertama menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantarnya, dan bagian kedua menggunakan Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa pengantarnya.

Karena kepiawaian Dewi Sartika dalam mengelola sekolah tersebut, akhirnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan di sekolah ‘Sekolah Kautamaan Isteri’ ini menarik perhatian beberapa Wanita priyai di tempat lain di Jawa Barat, serta menarik perhatian Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Alexander Willem Frederik Idenburg. Karena ketertarikan terhadap sekolah besutan sang Djuragan Dewi tersebut, akhirnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda memberikan bantuan pendanaan operasional sekolah kepada Dewi Sartika.

Bermodalkan dukungan positif yang didapatkan dari semua pihak tersebut, maka pada tahun-tahun berikutnya, di beberapa wilayah Jawa Barat, bermunculan beberapa Sekolah Istri (Sekolah khusus pemberdayaan Perempuan pada waktu itu) yang dikelola oleh perempuan-perempuan Sunda yang memiliki cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika. Dan pada tahun 1912 sudah berdiri sekitar 9 Sekolah Isteri di kota-kota dan kabupaten di sekitar jawa Barat. Bahkan pada tahun 1920, Sekolah-sekolah Isteri ini sudah bermunculan hampir di seluruh kota dan kabupaten di Jawa Barat. Bahkan semangat pendidikan ini menyeberang sampai ke ranah Sumatera, tepatnya ke Bukittinggi, dimana Sekolah Kautamaan Istri ini di dirikan oleh Encik Rama Saleh.

Views: 24

Halaman: 1 2 3 4 5 6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 30
  • 25
  • 271
  • 236
  • 1,326
  • 4,616
  • 81,007
  • 81,007
  • 155,925
  • 42
  • 4,968
  • 272