Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Hikmah dari Neutrino: Menangkap Energi Ilahi dengan Qalbun Salim
- Masyhuril Khamis Imbau Jemaah Umrah Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
- Pasca-Polemik Statement Bulan Dana PMI Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung: Ramdansyah Dorong 5 Langkah Strategis Pembenahan Tata Kelola Kemanusiaan di Jakarta
- Bantah Isu Tebang Pilih, Polisi Watch Minta Insan Pers Tetap Objektif
- Ketika “Upload” Medsos Mengalahkan Substansi, dan Jurnalis Dianggap Musuh
- Analisis SWOT: Navigasi Strategi Menuju Mutu Unggul Pembelajaran PAI
Pergulatan Batin Dewi Sartika
Pada masa-masa Dewi Sartika mulai beranjak remaja, sesungguhnya Dewi Sartika sering mengalami pergolakan batin yang sangat luar biasa. Di satu sisi, dia merasa beruntung karena terlahir dari keluarga priyai atau keluarga bangsawan pejabat daerah.
Ayahnya yang bernama Raden Soemanegara memang adalah seorang patih di Bandung pada waktu itu. Dan jabatan patih ini setingkat dengan Deputi Bupati atau Wakil Bupati. Sedangkan ibunya yang Bernama Raden Ayu Rajapermas, adalah seorang anak dari Bupati Bandung itu sendiri, yaitu Raden A. A. Martanegara, yang notabene adalah kakek sang Djuragan Dewi.
Tentu saja Dewi Sartika kecil merasa sangat beruntung dengan keadaannya pada waktu itu, dikarenakan dia dapat menikmati pendidikan di sekolah dasar yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu, yaitu sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau setingkat dengan Sekolah Dasar (SD) saat ini. pada awal tahun 1900-an, pemerintah Hindia Belanda memang sedang menjalankan sebuah politik balas budi atau yang lebih dikenal dengan politik etis kepada rakyat Indonesia.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Masyhuril Khamis Harap Wajib Halal Tahap Kedua Konsisten Dilaksanakan
- Raih Top GPR Figure Award 2026, Menag Apresiasi Kerja Kehumasan ASN Kemenag
- Ketum Al Washliyah Masyhuril Khamis Apresiasi Langkah Kapolri yang Dekat dengan Rakyat, Ulama, dan Pesantren
- MUI dan Kapolri Perkuat Sinergi, Ustaz Zaitun Rasmin Soroti Pentingnya Kolaborasi Ulama dan Polri
- Kemenhaj Perkuat Integrasi Data Kependudukan untuk Lindungi Hak Jemaah Haji
- Raih Tiga Penghargaan AHI 2026, Kemenag Perkuat Keterbukaan Informasi dan Komunikasi Publik
Menurut cacatan dari berbagai sumber, adapun politik etis, atau politik balas budi, diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal tahun 1900-an sebagai tanggapan terhadap kritik dan kecaman atas kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang sangat merugikan rakyat Indonesia.
Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa Belanda menerapkan politik etis:
1. Kritik dari Kaum Etis; Beberapa tokoh Belanda, seperti Pieter Brooshooft dan C.Th. van Deventer, mengkritik kebijakan tanam paksa dan menyuarakan perlunya tanggung jawab moral untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat pribumi. Van Deventer, misalnya, menulis artikel berjudul “Een Eereschuld” (Hutang Kehormatan) yang menekankan kewajiban Belanda untuk membalas budi kepada rakyat Indonesia.
>>> ke Halaman 3
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 24























