Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Rilis Tanggapan atas Pidato Presiden yang Viral
- Azis Khafia: Rapat Raksasa IKADA 1945 Ungkap Peran Kaum Betawi
- PB FORMULA Apresiasi dan Doakan Mantan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
- 60 Tahun KAHMI Untuk Kedaulatan Bangsa: Transformasi Modal Sosial Menjadi Kekuatan Komunikasi Politik pada Era Network Society
- Kalimantan Selatan: Gelap di Lumbung Energi
- KEMENANGAN TALIBAN, HTS, DAN HOUTHI
9. Aktivis Buzzer.
Di dalam jenjang struktur Aktivis, maka Aktivis Buzzer adalah Aktivis dengan level Terendah.
Aktivis Buzzer adalah satu-satunya nama Tipe Aktivis yang dinisbahkan karena “fungsi”-nya sebagai “Buzzer”. Berbeda dengan nama tipe-tipe Aktivis lainnya, yang dinamakan sesuai Sifat atau Karakternya.
Secara mendasar, mereka berada di antara Status Aktivis (hanya dikarenakan mereka Aktif dan punya komunitas) dengan Masyarakat Kebanyakan.
Mereka tidak memiliki Idealisme, tidak memiliki Moralitas, tidak memiliki Etika dan bahkan Tidak Memiliki Perasaan.
Mereka beraktifitas semata-mata Karena Uang atau hal-hal yang bersifat Materi.
Bila ditransformasikan ke dalam bentuk Profesi, mereka lebih tepat disebut Salesman ketimbang Aktifis, itupun Salesman minus Moralitas, Etika dan Perasaan.
Mereka bekerja sesuai Target. Untuk lebih mudah membayangkannya, kita coba pahami Contoh Kasus di bawah ini.
Pada Era sebelum munculnya Rezim Jokowi, kita sangat-sangat jarang atau nyaris tidak Mendengar atau Membaca kata-kata Intoleransi, Ujaran Kebencian, Ekstrim, Fundamentalis, Kadrun, Cebong, Kampret, Agama Import, Arab Yaman dan Minoritas Terdzolimi.
Sepuluh kata Azimat di atas harus disosialisasikan kepada Masyarakat Luas, sampai Masyarakat Terbiasa menggunakan kata-kata tersebut setiap saat dalam berkomunikasi.
10 kata di atas pada dasarnya adalah bertujuan Membentuk Kubu-kubu Masyarakat yang Saling Bertentangan dan untuk kemudian Diadu Domba di antara mereka.
Kalaupun ada Adu Domba pada era Rezim Pra Jokowi, lebih kepada hal-hal yang bersifat Kasuistis dan Terkendali.
Dalam Rezim Jokowi, Adu Domba ini bersifat Permanen dan Laten (Tersembunyi dan Menetap) yang tentu saja Sangat Berbahaya untuk Kesatuan Bangsa dalam Jangka Panjang.
Lalu kenapa kini kata-kata tersebut menjadi “Trending Topic” dalam Dekade Terakhir ini?
Di sinilah Peran Aktivis Buzzer sangat-sangat Signifikan dalam Mensosialisasikannya.
Sebagai contoh di bawah ini misalnya.
Pertama ditentukan dulu oleh “Tim Penyusun Skenario Adu Domba” yang dibentuk oleh Tim .Asing yang memiliki ahli-ahli Antropologi, Psikologi dan berbagai Disiplin Ilmu Sosial Kemasyarakatan lainnya.
10 Kata yang kita singgung di atas untuk disosialisasikan dengan masif, terkontrol dan kontinyu.
Setiap Aktifis Buzzer diberi Target menuliskan 10 Kata Sakti tersebut di atas setidaknya masing-masing100 kata per hari.
Dalam setiap Tim ada 10 Aktifis Buzzer yang memiliki 10 Akun atas berbagai nama Alias. Mereka masing-masing masuk di setidaknya di 10 Grup Medsos boleh dari berbagai Jenis Medsos ataupun cukup di Satu Jenis Medsos saja, tergantung Kemampuan masing-masing Aktivis Buzzer.
Setiap kata yang mereka Posting di Medsos apa pun harus mereka “Screenshoot” sebagai bukti untuk Penjumlahan Kata yang mereka masing-masing Posting.
Dari minimal 1000 kata (untuk 10 Kata di atas) yang mereka Posting setiap hari, mereka masing-masing mendapatkan 1 juta rupiah, dengan ketentuan setiap 1 kata kelebihan dari 1000, mereka mendapatkan lagi 2000 rupiah untuk setiap kata. Bonus 1 Kata 2000 rupiah ini Menambah Semangat Aktivis Buzzer untuk memproduksi lebih dari 1000 kata setiap hari.
Bila mereka cukup puas dengan Target 1000 Kata per hari saja, maka dari 1 Tim Aktivis Buzzer akan mampu mensosialisasikan (dalam arti Memproduksi) 10 Kata Sakti Mereka sebanyak 10.000 Kata Sakti Pemecah Belah Bangsa per hari.
Berarti dalam 1 Bulan mereka akan bisa memasyarakatkan 300.000 Kata Sakti itu yang artinya rata-rata sama dengan 30.000 Kata untuk setiap 1 Kata Sakti disosialisasikan.
Bisa dibayangkan berapa kali setiap 1 Kata Diproduksi di Medsos Setiap Tahun dan selama 10 Tahun.
Luar Biasa banyaknya kita Diracuni dengan 10 Kata Sakti Berbisa itu dan kini kita sudah Terbiasa pula Memproduksi Sendiri. Begitulah Proses Lahirnya Aktivis Buzzer.
Apa Arti Dari 10 Kata Tersebut?
10 Kata di atas adalah Kata-kata Mantera yang dengan sengaja disebarluaskan ke Masyarakat agar di antara Masyarakat terjadi Rasa Saling Menghujat dan Menghina Satu Sama Lain.
Di antara itulah Para Pemimpin Bersilang Sengketa dan Rezim Memanfaatkan Hal ini untuk Kepentingan Mereka Sendiri.
Mengkritik Pemerintah dianggap menyebarkan Ujaran Kebencian, Taat kepada Agama disebut Fundamentalis Ekstrim, Agama Islam disebut Agama Import, padahal semua Agama yang ada di Indonesia adalah Agama Import dan istilah-istilah lain yang prinsipnya adalah Menanamkan Rasa Permusuhan di antara Anak Bangsa.
Di atas itu semua, maksud beberapa kata yang Disosialisasikan kepada Masyarakat tersebut bertujuan agar kata-kata tersebut selalu digunakan dalam Percakapan Sehari-hari.
Dengan demikian Masyarakat terbiasa menggunakan kata-kata bersangkutan dalam Berkomunikasi dan Diharapkan dengan demikian Berier antara Masyarakat yang satu dengan Masyarakat lain semakin Kuat Terbentuk.
>>> ke Halaman 9
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 16























