Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Mari, Anda saya ajak untuk beranalogi!
Sholat Fardhu 5 Waktu itu analog dengan pondasi dari suatu bangunan. Bangunan itu bisa berdiri tegak karena ada pondasi yang mendasarinya. Tanpanya, bangunan pasti runtuh. Atau sholat analog dengan kunci gerbang ibadah dan keberkahan. Setiap tindakan atau pekerjaan bisa menjadi ibadah jika Anda membuka pintu gerbang tersebut dengan kunci yang bernama Sholat Fardhu 5 Waktu.
Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh amalan lainnya baik pula (dia telah beruntung dan berhasil) . Dan jika shalatnya rusak, sungguh amalan lainnya rusak pula (dia telah gagal dan rugi)”…, (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa’i).
BACA JUGA:
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Tragedi di Istana Kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Menghilang_
Menegakkan Kewajiban Moral atau Nilai-Nilai Ilahiyah dan Manusiawi Dalam Kehidupan Sehari-Hari.
Al-Qur-an telah memperingatkan secara tegas agar apa yang Anda miliki dan apa yang Anda lakukan atau yang menjadi pekerjaan Anda, jangan sampai melalaikan, mengabaikan dan meninggalkan kewajiban-kewajiban tersebut di atas.
Allooh Ta’aalaa berfirman:
رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Laki-laki (*rijaal*) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, yang mendirikan sholat,
dan yang membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”, (QS. An-Nur [24]: 37).
Kata *”rijaal”* (laki-laki) dalam ayat ini bermakna general, yakni baik laki-laki maupun perempuan (dewasa/baligh).
Enam Serial Novel Fantasi Religi karya MJK,. Bisa anda dapatkan dengan Harga terbaik Rp.100 ribu per eksemplar sudah termasuk Ongkir untuk di Pulau Jawa. Untuk di luar Pulau Jawa ada tambahan Ongkir.
Silahkan hubungi kontak WA MJK untuk informasi & order
- Blue Moon
- Suksesi Tak Berdarah
- Sayidin Panotogomo
- Tiga Pendekar Langit
- Salahudin Jalal Tanjung
- Adam Musthofa.
“ORDER BUKU” silahkan kontak wa saya MJK: 081266804830
Kemudian jika dicermati, kata *”tijaaroh”* (perniagaan) di sini mencakup tidak saja meliputi segala bentuk perdagangan untuk meraih upah, tetapi juga merupakan *simbolisme atau qias dari setiap amalan (tindakan atau pekerjaan)*. Dan bai’ (jual beli) adalah bentuk lebih khusus dari perniagaan, yang dimana sama saja merupakan manifestasi dari suatu tindakan atau pekerjaan.
Dan yang dimaksud dengan *”berdzikir pada Allooh”* (dzikrullooh) dalam ayat di atas, bisa berarti:
1. Berdzikir kepada Allooh dengan lisan.
2. Mendirikan (mengerjakan) sholat lima waktu, termasuk mengerjakan ibadah ritual lainnya sebagai kewajiban kepada-Nya.
3. Mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (akhlak) atau menegakkan nilai-nilai Ilahiyah dan manusiawi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada point 1, semua tentunya sudah tahu, bahwa berdzikir kepada Alloh dengan lisan adalah membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, hauqolah, dll.
Berkaitan dengan point 2, yakni mendirikan sholat 5 waktu, Ibnul Jauzi dalam kitabnya, Zaadul Masiir, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mendirikan sholat adalah mengerjakan sholat fardhu tepat waktu dan menyempurnakannya.
Masih dalam nada yang sama, Sa’id bin Abul Hasan berkata, “Perniagaan dan jual beli yang tidak membuat mereka lalai dari mendatangi sholat fardhu tepat pada waktunya”.
Lebih lanjut hal ini ditegaskan sedemikian rupa oleh seorang ulama, Mathor Al Warroq, dengan berkata, “Yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka biasa melakukan jual beli, akan tetapi jika mereka mendengar adzan, saat timbangan dagangan mereka berada di tangan mereka, lalu mereka pun meninggalkannya. Lalu mereka memenuhi panggilan sholat.”
Bahkan menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa, “Mereka tidak lalai dari mengerjakan sholat jama’ah (di masjid)”.
>>> ke Halaman 5
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Views: 26
























