Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- RETORIKA AMBIGU: ROCKY GERUNG, MBG, DAN PRAGMATISME POLITIK
- SANTRI HARUS DIBERI PELUANG UNTUK MEMBUAT RESOLUSINYA SENDIRI
- DARI PARIS KE ASIA: Dampak Global Krisis Biaya Hidup, Utang Prancis, dan Keresahan Sosial 2026
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
- Kepecayaan (Trust) harus Dijaga
- Hikmah dari Neutrino: Menangkap Energi Ilahi dengan Qalbun Salim
Para ulama, khususnya ulama tafsir, yang telah disebutkan pendapatnya yang berkaitan dengan makna mendirikan sholat pada ayat di atas, tentunya bukan tanpa dasar yang kuat, tetapi berdasarkan hadits Nabi saw, di antaranya:
Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu tidak segera datang (untuk sholat berjama’ah di masjid/musholla), maka tidak ada sholat baginya, kecuali jika karena udzur”, (HR. Ibnu Majah, Ad-Daru Quthni, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Diriwayatkan bahwa Rosuluullooh saw bertanya kepada seorang pria buta yang ingin sholat di rumah, “Apakah engkau mendengar panggilan adzan (untuk sholat fardhu) ?” Ketika pria itu menjawab ya, beliau berkata, “Kalau begitu, datanglah!”, (HR. Muslim).
Dari Abdullah bin Mas’ud, ra, “Aku bertanya kepada Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apa yang paling dicintai Allooh?’ Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”,…… (HR Bukhari).
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Sholat di awal waktunya”, (HR. Abu Daud).
*Khusus pada point 3 di atas, sebenarnya merupakan manifestasi dari penerapan secara hakikat dari nilai ibadah-ibadah ritual*, khususnya ibadah sholat fardhu dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai moral atau nilai Ilahiyah dan manusiawi seperti perilaku benar, cinta, kasih-sayang, jujur, amanah, adil, empati, peduli, menolong, solider, integritas, konsisten, kerja keras, tahan banting (istiqomah), pantang menyerah, ridho, syukur, sabar, tawakal, dll yang Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari pada hakikatnya merupakan manifestasi dari *”dzikir”* Anda kepada-Nya (mengingat Allooh swt).
Saat dimana Anda sedang melakukan suatu amalan, tindakan, atau urusan dengan benar, sesuai nilai agama, sesuai hukum syari’at, dan sesuai aturan yang tetapkan Islam, misalnya dalam ibadah ritual atau mu’amalah, bahkan saat Anda melakukan hubungan intim suami-istri, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (4)
- Kemhan RI Perkuat Sinergi Lintas Instansi, Pastikan Hak dan Kesejahteraan Veteran Terpenuhi
- Kemenhaj Tetapkan Rencana Perjalanan Haji 2027, Jemaah Mulai Masuk Asrama 10 April
- Kapolda Gorontalo Dan Ketua Bhayangkari Daerah Hadiri Donor Darah Hari Jadi KE-75 Humas POLRI
- PRIMA DMI Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-75 Presiden Prabowo Subianto
- Pelatihan & Lomba Dakwah Digital Digelar Kemenag DKI Jakarta Bersama DPW IMMI DKI Jakarta, Dorong Dakwah Era Digital Menuju Indonesia Emas
- Buku Putih Kadin 2026 Soroti 107 Hambatan Dunia Usaha, Dorong Reformasi Industri
Saat dimana Anda sedang melakukan suatu amalan atau pekerjaan dengan benar, sesuai kesepakatan (penjanjian), sesuai SOP, dan secara profesional, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.
Saat dimana Anda sedang berbuat jujur kepada orang lain, jujur dalam jual beli, jujur dalam bekerja (pekerjaannya), dll, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.
Saat dimana Anda sedang menolong orang lain yang membutuhkan, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.
Saat dimana Anda sedang sabar dalam menerima masalah dan ujian, atau Anda bersyukur atas nikmat-Nya, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.
Dan seterusnya…! Pada akhirnya apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, *jika dilakukan dengan memenuhi ke-4 syarat di atas, yakni membaca basmallah, niat untuk ibadah kepada Allooh, mengerjakan ibadah ritual, dan mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (berdzikir kepada-Nya atau dengan menegakkan nilai-nilai moral) di dalamnya*, MAKA akan menjadi bernilai ibadah kepada-Nya. Dan pada saat yang sama, Anda akan selamat (beruntung dan sukses), Anda akan mendapatkan kebaikan dan pahala dunia-akhirat.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Hal ini berlaku sebaliknya, yang berarti Anda sedang melalaikan dan mengabaikan Allooh ‘Azza wa Jalla dalam setiap aktivitas Anda, Anda sedang tidak beribadah kepada-Nya, bahkan Anda sedang membangkang dan bermaksiat kepada-Nya.
Apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, jika tidak memenuhi 4 syarat di atas, yakni tidak membaca basmallah, bukan niat untuk beribadah, tidak mengerjakan kewajiban ibadah ritual, misalnya ibadah sholat fardhu, atau Anda melakukan ibadah mu’amalah tetapi tidak sesuai aturan syariat yg telah ditetapkan, dan tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban moral, misalnya demi cinta keluarga tapi Anda korupsi, atau Anda
korupsi waktu maupun uang perusahaan, Anda berbohong dalam jual beli dengan mengurangi timbangan (segala hal yang merugikan pembeli/konsumen), Anda cuek, tidak peduli dan egois terhadap orang yang butuh bantuan, Anda asal-asalan dalam bekerja, tidak mencintai pekerjaan dan tidak profesional (disiplin hanya jika diawasi, bekerja hanya jika diperintah, dan bertanggungjawab jika hanya diminta oleh pimpinan), Anda berkeluh kesah saat musibah menimpa dan ingkar nikmat dengan berfoya-foya, dll, *MAKA* hakikatnya Anda SEDANG TIDAK BERIBADAH KEPADA Allooh Ta’aalaa, alias menjadi sia-sia belaka, dan bahkan menjadi lebih tragis lagi, yakni malah membikin Anda berdosa dan celaka. Anda tersesat jalan, terperdaya dan dikibulin oleh setan, merasa sedang beribadah, padahal hanya wartamorgana belaka, dimana yang sebenarnya Anda sedang menuju kebinasaan dunia-akhirat (QS. Az-Zukhruf (43): 36).
*****
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Menko Hukum, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra Buka TOT Mubaligh Nasional Bakomubin
- Dewan Fatwa Al Washliyah Tegaskan Pembakaran Hutan dan Lahan Hukumnya Haram, Desak Penegakan Hukum Tegas
- Bukan Sekadar Kumpul-Kumpul, Dai Pantura Ungkap 7 Pilar Membangun Organisasi yang Berdampak
- Disporа DKI Jakarta dan PRIMA DMI DKI Jakarta Dorong Remaja Masjid Bangun Bisnis Kaos dan Merchandise dengan Brand Sendiri
- BNCT dan Mitra Strategis Letakkan Fondasi Pendidikan bagi Generasi Muda Belawan
- Azis Khafia : Kiyai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia telah Berpulang Ke Rahmatullah
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*phofmu/ wi/ nf/ 200226
Views: 26























