Beranda / SYIAR HIJRAH / EMPAT SYARAT AGAR SEBUAH TINDAKAN ATAU PEKERJAAN MENJADI IBADAH, BUKAN SEKEDAR RUTINITAS BAHKAN MENJADI SIA-SIA, DOSA, DAN CELAKA

EMPAT SYARAT AGAR SEBUAH TINDAKAN ATAU PEKERJAAN MENJADI IBADAH, BUKAN SEKEDAR RUTINITAS BAHKAN MENJADI SIA-SIA, DOSA, DAN CELAKA

Para ulama, khususnya ulama tafsir, yang telah disebutkan pendapatnya yang berkaitan dengan makna mendirikan sholat pada ayat di atas, tentunya bukan tanpa dasar yang kuat, tetapi berdasarkan hadits Nabi saw, di antaranya:

Dari Ibnu Abbas ra, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu tidak segera datang (untuk sholat berjama’ah di masjid/musholla), maka tidak ada sholat baginya, kecuali jika karena udzur”, (HR. Ibnu Majah, Ad-Daru Quthni, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Diriwayatkan bahwa Rosuluullooh saw bertanya kepada seorang pria buta yang ingin sholat di rumah, “Apakah engkau mendengar panggilan adzan (untuk sholat fardhu) ?” Ketika pria itu menjawab ya, beliau berkata, “Kalau begitu, datanglah!”, (HR. Muslim).

Dari Abdullah bin Mas’ud, ra, “Aku bertanya kepada Nabi Shollalloohu ‘alaihi wa sallam , ‘Amalan apa yang paling dicintai Allooh?’ Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”,…… (HR Bukhari).

Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Sholat di awal waktunya”, (HR. Abu Daud).

*Khusus pada point 3 di atas, sebenarnya merupakan manifestasi dari penerapan secara hakikat dari nilai ibadah-ibadah ritual*, khususnya ibadah sholat fardhu dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai moral atau nilai Ilahiyah dan manusiawi seperti perilaku benar, cinta, kasih-sayang, jujur, amanah, adil, empati, peduli, menolong, solider, integritas, konsisten, kerja keras, tahan banting (istiqomah), pantang menyerah, ridho, syukur, sabar, tawakal, dll yang Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari pada hakikatnya merupakan manifestasi dari *”dzikir”* Anda kepada-Nya (mengingat Allooh swt).

Saat dimana Anda sedang melakukan suatu amalan, tindakan, atau urusan dengan benar, sesuai nilai agama, sesuai hukum syari’at, dan sesuai aturan yang tetapkan Islam, misalnya dalam ibadah ritual atau mu’amalah, bahkan saat Anda melakukan hubungan intim suami-istri, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang melakukan suatu amalan atau pekerjaan dengan benar, sesuai kesepakatan (penjanjian), sesuai SOP, dan secara profesional, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang berbuat jujur kepada orang lain, jujur dalam jual beli, jujur dalam bekerja (pekerjaannya), dll, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang menolong orang lain yang membutuhkan, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Saat dimana Anda sedang sabar dalam menerima masalah dan ujian, atau Anda bersyukur atas nikmat-Nya, maka hakikatnya Anda sedang *”berdzikir kepada-Nya”*.

Dan seterusnya…! Pada akhirnya apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, *jika dilakukan dengan memenuhi ke-4 syarat di atas, yakni membaca basmallah, niat untuk ibadah kepada Allooh, mengerjakan ibadah ritual, dan mengerjakan kewajiban-kewajiban moral (berdzikir kepada-Nya atau dengan menegakkan nilai-nilai moral) di dalamnya*, MAKA akan menjadi bernilai ibadah kepada-Nya. Dan pada saat yang sama, Anda akan selamat (beruntung dan sukses), Anda akan mendapatkan kebaikan dan pahala dunia-akhirat.

Hal ini berlaku sebaliknya, yang berarti Anda sedang melalaikan dan mengabaikan Allooh ‘Azza wa Jalla dalam setiap aktivitas Anda, Anda sedang tidak beribadah kepada-Nya, bahkan Anda sedang membangkang dan bermaksiat kepada-Nya.

Apa saja yang Anda lakukan, atau apapun pekerjaan Anda, jika tidak memenuhi 4 syarat di atas, yakni tidak membaca basmallah, bukan niat untuk beribadah, tidak mengerjakan kewajiban ibadah ritual, misalnya ibadah sholat fardhu, atau Anda melakukan ibadah mu’amalah tetapi tidak sesuai aturan syariat yg telah ditetapkan, dan tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban moral, misalnya demi cinta keluarga tapi Anda korupsi, atau Anda
korupsi waktu maupun uang perusahaan, Anda berbohong dalam jual beli dengan mengurangi timbangan (segala hal yang merugikan pembeli/konsumen), Anda cuek, tidak peduli dan egois terhadap orang yang butuh bantuan, Anda asal-asalan dalam bekerja, tidak mencintai pekerjaan dan tidak profesional (disiplin hanya jika diawasi, bekerja hanya jika diperintah, dan bertanggungjawab jika hanya diminta oleh pimpinan), Anda berkeluh kesah saat musibah menimpa dan ingkar nikmat dengan berfoya-foya, dll, *MAKA* hakikatnya Anda SEDANG TIDAK BERIBADAH KEPADA Allooh Ta’aalaa, alias menjadi sia-sia belaka, dan bahkan menjadi lebih tragis lagi, yakni malah membikin Anda berdosa dan celaka. Anda tersesat jalan, terperdaya dan dikibulin oleh setan, merasa sedang beribadah, padahal hanya wartamorgana belaka, dimana yang sebenarnya Anda sedang menuju kebinasaan dunia-akhirat (QS. Az-Zukhruf (43): 36).

 *****

*phofmu/ wi/ nf/ 200226

Views: 26

Halaman: 1 2 3 4 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 1
  • 165
  • 136
  • 239
  • 186
  • 1,708
  • 4,739
  • 82,182
  • 82,182
  • 156,922
  • 28
  • 4,999
  • 271