Beranda / SYIAR HIJRAH / HAKIKAT CINTA ADALAH MENCINTAI TUHAN

HAKIKAT CINTA ADALAH MENCINTAI TUHAN

Artinya, bahwa cinta empiris seperti cinta pada orang lain, kekasih, orang tua, harta, bahkan segala ciptaan-Nya (makhluk), hakikatnya hanyalah merupakan “cinta metafisik” belaka.

Singkat kata, analoginya bahwa “cinta empiris” adalah “ruang dan waktu empiris” itu. Dan “cinta metafisik” adalah “ruang dan waktu metafisik” itu seperti telah dibeberkan di atas.

*Hakikat Cinta Metafisik*

Kalau begitu, apa itu “cinta metafisik” atau “cinta kepada Tuhan”?!

Cinta metafisik, cinta kepada Tuhan itu, adalah cinta yang meninggalkan apa yang bukan Dia, demi untuk Dia. Bentuk operasionalnya adalah jika ego, hawa nafsu, vested interest, keinginan (kehendak) dan kepentingan diri sendiri sudah bersedia tunduk dan patuh tanpa syarat pada nilai mutlak Ilahiyah, pada ketentuan, kehendak, dan petintah-Nya, pada ajaran-Nya. Itulah saat dimana ego dirinya, yakni kehendaknya dan sifat-sifat manusiawinya itu, telah sesuai dan menyatu dengan kehendak dan sifat-sifat Tuhan.

Jadi “cinta metafisik” itu adalah *”tunduk tanpa syarat” kepada “nilai mutlak Ilahiyah* dibalik segala egoisme, ke-aku-an, keinginan dan kepentingan manusia.

Dalam arti yang lebih konkrit dan membumi lagi bahwa “cinta metafisik” adalah tunduk tanpa syarat pada nilai mutlak
tersebut sebelum dan pada saat Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris (makhluk).

Dimana *nilai mutlak Ilahiyah* dalam arti operasional bisa berupa moral, seperti jujur, berintegritas, bertanggungjawab, adil, bijaksana, amanah, empati, peduli, solider, menolong, membimbing, mendidik, menasehati, mengingatkan, mengkritik yang konstruktif, memelihara, komitmen, pengertian, dan lain-lain termasuk etos kerja seperti bersungguh-sungguh, berjuang, berkorban, berani, kerja keras, gigih, konsisten, tahan banting, pantang menyerah, penuh dedikasi, profesional, berkorban, kreatif, proaktif, ridho, syukur, sabar, tawakal, dan lainnya yang bersifat mutlak sama *SEPERTI* mutlaknya ruang dan waktu metafisik sebagai dasar daripada ruang dan waktu empiris.

Artinya, bahwa “cinta empiris”, cinta kepada obyek-obyek empiris seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, gunung, laut, hutan, dan seterusnya itu, jika berpijak atau berdasarkan pada “nilai mutlak Ilahiyah”, maka pada hakikatnya merupakan “cinta metafisik”.

Dengan begitu, jika Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris tersebut, maka dalam ketika yang sama, berarti Anda sedang mencintai-Nya.

Views: 42

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 277
  • 236
  • 248
  • 223
  • 1,627
  • 4,973
  • 81,502
  • 81,502
  • 156,359
  • 43
  • 4,980
  • 271