Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Artinya, bahwa cinta empiris seperti cinta pada orang lain, kekasih, orang tua, harta, bahkan segala ciptaan-Nya (makhluk), hakikatnya hanyalah merupakan “cinta metafisik” belaka.
Singkat kata, analoginya bahwa “cinta empiris” adalah “ruang dan waktu empiris” itu. Dan “cinta metafisik” adalah “ruang dan waktu metafisik” itu seperti telah dibeberkan di atas.
*Hakikat Cinta Metafisik*
Kalau begitu, apa itu “cinta metafisik” atau “cinta kepada Tuhan”?!
Cinta metafisik, cinta kepada Tuhan itu, adalah cinta yang meninggalkan apa yang bukan Dia, demi untuk Dia. Bentuk operasionalnya adalah jika ego, hawa nafsu, vested interest, keinginan (kehendak) dan kepentingan diri sendiri sudah bersedia tunduk dan patuh tanpa syarat pada nilai mutlak Ilahiyah, pada ketentuan, kehendak, dan petintah-Nya, pada ajaran-Nya. Itulah saat dimana ego dirinya, yakni kehendaknya dan sifat-sifat manusiawinya itu, telah sesuai dan menyatu dengan kehendak dan sifat-sifat Tuhan.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Jadi “cinta metafisik” itu adalah *”tunduk tanpa syarat” kepada “nilai mutlak Ilahiyah* dibalik segala egoisme, ke-aku-an, keinginan dan kepentingan manusia.
Dalam arti yang lebih konkrit dan membumi lagi bahwa “cinta metafisik” adalah tunduk tanpa syarat pada nilai mutlak
tersebut sebelum dan pada saat Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris (makhluk).
Dimana *nilai mutlak Ilahiyah* dalam arti operasional bisa berupa moral, seperti jujur, berintegritas, bertanggungjawab, adil, bijaksana, amanah, empati, peduli, solider, menolong, membimbing, mendidik, menasehati, mengingatkan, mengkritik yang konstruktif, memelihara, komitmen, pengertian, dan lain-lain termasuk etos kerja seperti bersungguh-sungguh, berjuang, berkorban, berani, kerja keras, gigih, konsisten, tahan banting, pantang menyerah, penuh dedikasi, profesional, berkorban, kreatif, proaktif, ridho, syukur, sabar, tawakal, dan lainnya yang bersifat mutlak sama *SEPERTI* mutlaknya ruang dan waktu metafisik sebagai dasar daripada ruang dan waktu empiris.
Artinya, bahwa “cinta empiris”, cinta kepada obyek-obyek empiris seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, gunung, laut, hutan, dan seterusnya itu, jika berpijak atau berdasarkan pada “nilai mutlak Ilahiyah”, maka pada hakikatnya merupakan “cinta metafisik”.
Dengan begitu, jika Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris tersebut, maka dalam ketika yang sama, berarti Anda sedang mencintai-Nya.
>>> ke Halaman 5
Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Views: 42























