Baca Juga di WARTA IDAMAN (6)
- Gugatan Pemadaman Listrik, Forkot Hadirkan Ahli dan Saksi di PTUN Banjarmasin
- Prihatin Karhutla Berkepanjangan, DPW KalSel & DPD Partai Ummat Banjarbaru Salurkan Voucher BBM dan Logistik untuk Relawan
- Krisis Kelistrikan Kalsel: Di Tengah Kabut Asap dan Air Macet, Janji Pemulihan PLN September 2026 Ditagih
- DPW Partai Ummat Kalsel & DPD Banjarbaru Menyampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Mantan Gubernur H. Rudy Ariffin
- BREAKING NEWS: Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
- “Gema Sholawat Bersama Haddad Alwi”, Perwakilan Pengurus DPD Partai Ummat Banjarbaru hadir
Konsep *empirisnya waktu*, seperti waktu di arloji Anda, waktu di HP Anda, waktu di jam dinding Anda, dst menunjukkan bahwa nampak seakan-akan waktu itu banyak, sebanyak waktu yang ada di arloji, HP, dan jam dinding yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara waktu di arloji yang satu dengan waktu di arloji yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.
Padahal *”waktu dalam arti empiris”* yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena eksistensi *”satu waktu metafisik”*. Atau waktu-waktu empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu waktu metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual.
Anda masih penasaran?! Oke, sekarang juga, lepaskan arloji di pergelangan tangan Anda! Lalu, banting arloji itu ke lantai! Dalam waktu sekejap, maka *”waktu dalam arloji”* Anda langsung lenyap bersama hancurnya arloji Anda.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (7)
- PUISI: “KARHUTLA”
- Kesempatan Masih Terbuka! Ayo Daftarkan Tim di Kejurda AFI 2026
- Tiket Film Pirunduk Cuma Rp25 Ribu di Banjarmasin dan Kuala Kapuas, Ini Cara Mendapatkannya
- AFI DKI Jakarta Perkuat Pembinaan Floorball, Libatkan 200 Atlet Pelajar
- AFI DKI Jakarta Gelar Floorball Creative Competition 2026
- PUISI: “KOPI”
Tetapi, waktu metafisik itu tetap bereksistensi, tetap berjalan, tidak terhenti sedetikpun. Ia ada sejak awal diciptakannya alam semesta hingga kiamat tiba. Ia ‘abadi’ atau ‘langgeng’ dalam konteks *relatifnya milyaran waktu empiris dalam arloji (jam dinding, HP, dll) yang ada di bumi*.
Artinya, bahwa waktu empiris seperti “waktu dalam arloji” dan seterusnya itu, hakikatnya merupakan “waktu metafisik” belaka.
Begitu juga kiranya, konsep *empirisnya cinta*, seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, alam semesta dan seterusnya menunjukkan bahwa nampak seakan-akan cinta itu banyak, sebanyak cinta pada sesuatu atau pada obyek cinta yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara cinta empiris yang satu dengan cinta empiris yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.
Padahal *”cinta dalam arti empiris”* (cinta empiris), yaitu cinta pada obyek-obyek yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena keberadaan *”satu cinta metafisik”*. Atau cinta-cinta empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu cinta metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual seperti telah disebutkan di atas.
>>> ke Halaman 4
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
Views: 42























