Beranda / SYIAR HIJRAH / HAKIKAT CINTA ADALAH MENCINTAI TUHAN

HAKIKAT CINTA ADALAH MENCINTAI TUHAN

Konsep *empirisnya waktu*, seperti waktu di arloji Anda, waktu di HP Anda, waktu di jam dinding Anda, dst menunjukkan bahwa nampak seakan-akan waktu itu banyak, sebanyak waktu yang ada di arloji, HP, dan jam dinding yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara waktu di arloji yang satu dengan waktu di arloji yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.

Padahal *”waktu dalam arti empiris”* yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena eksistensi *”satu waktu metafisik”*. Atau waktu-waktu empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu waktu metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual.

Anda masih penasaran?! Oke, sekarang juga, lepaskan arloji di pergelangan tangan Anda! Lalu, banting arloji itu ke lantai! Dalam waktu sekejap, maka *”waktu dalam arloji”* Anda langsung lenyap bersama hancurnya arloji Anda.

Tetapi, waktu metafisik itu tetap bereksistensi, tetap berjalan, tidak terhenti sedetikpun. Ia ada sejak awal diciptakannya alam semesta hingga kiamat tiba. Ia ‘abadi’ atau ‘langgeng’ dalam konteks *relatifnya milyaran waktu empiris dalam arloji (jam dinding, HP, dll) yang ada di bumi*.

Artinya, bahwa waktu empiris seperti “waktu dalam arloji” dan seterusnya itu, hakikatnya merupakan “waktu metafisik” belaka.

Begitu juga kiranya, konsep *empirisnya cinta*, seperti cinta pada kekasih, orang tua, saudara, tetangga, harta, jabatan, profesi, alam semesta dan seterusnya menunjukkan bahwa nampak seakan-akan cinta itu banyak, sebanyak cinta pada sesuatu atau pada obyek cinta yang ada di dunia ini. Dan juga, nampak *seolah-olah antara cinta empiris yang satu dengan cinta empiris yang lain itu berdiri sendiri-sendiri*, tidak ada hubungannya satu sama lain.

Padahal *”cinta dalam arti empiris”* (cinta empiris), yaitu cinta pada obyek-obyek yang nampak secara fisik-lahiriyah, yang mempunyai bentuk unik dan relatif tersebut, semuanya itu ada dan terwujud karena keberadaan *”satu cinta metafisik”*. Atau cinta-cinta empiris tersebut, hanyalah manifestasi dan derivate (turunan) dari *”satu cinta metafisik “* yang bersifat universal, ‘mutlak’, ‘kekal’, dan spiritual seperti telah disebutkan di atas.

Views: 42

Halaman: 1 2 3 4 5 6 7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

INDONESIA CARE - NTT
DONASI TERBAIK MU MELALUI "I CARE"
BSI
7000555292
Yayasan Indonesia Cepat Aktif Responsif Empati

BERLANGGANAN GRATIS

Silahkan Ketik Email Anda, di bawah ini:
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz
Mushaf Hapalan Al Qur'an Hifz

Social Icons

KATEGORI

STATISTIK

  • 0
  • 277
  • 236
  • 248
  • 223
  • 1,627
  • 4,973
  • 81,502
  • 81,502
  • 156,359
  • 43
  • 4,980
  • 271