Baca Juga di WARTA IDAMAN (6)
- Gugatan Pemadaman Listrik, Forkot Hadirkan Ahli dan Saksi di PTUN Banjarmasin
- Prihatin Karhutla Berkepanjangan, DPW KalSel & DPD Partai Ummat Banjarbaru Salurkan Voucher BBM dan Logistik untuk Relawan
- Krisis Kelistrikan Kalsel: Di Tengah Kabut Asap dan Air Macet, Janji Pemulihan PLN September 2026 Ditagih
- DPW Partai Ummat Kalsel & DPD Banjarbaru Menyampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Mantan Gubernur H. Rudy Ariffin
- BREAKING NEWS: Mantan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun
- “Gema Sholawat Bersama Haddad Alwi”, Perwakilan Pengurus DPD Partai Ummat Banjarbaru hadir
Sang Maulawi Ma’nawi (tokoh dunia makna), Jalaluddin Rumi (1207 ~ 1273 M) bilang, “Hakikat cinta adalah mencintai Tuhan. Yaitu, dengan mengalami sifat-sifat-Nya, yang tidak membutuhkan tafsir apapun. Cinta pada selain-Nya adalah palsu dan berhala”.
Bukan suatu kebetulan, bahwa ada benang merah yang tersambung dan kesamaan substansi dari ketiga sufi dan filosof itu dalam mendefinisikan hakikat cinta, yaitu *”mencintai Tuhan”* dengan merefleksikan dan memproyeksikan sifat-sifat-Nya dalam kehidupan.
Sifat-sifat Tuhan itu merupakan sumber nilai yang bersifat mutlak (nilai mutlak Ilahiyah) dan yang menjadi landasan perilaku atau moral bagi manusia.
Dari itu, berarti moral itu merupakan salah satu dari nilai-nilai mutlak Ilahiyah dan merupakan obyektivikasi atau bentuk operasional dari sifat-sifat Tuhan. Lebih konkritnya bahwa moral adalah manifestasi dari sifat-sifat-Nya yang menyata dalam dimensi manusiawi, yang manusia alami dalam kehidupan sehari-hari. Atau moral itu merupakan “dimensi manusiawi” dari “sifat-sifat Ilahi”.
Dengan begitu, berdasarkan apa yang dikatakan oleh ketiga sufi dan filosof di atas, menunjukkan bahwa cinta berarti moral, cinta hakikatnya adalah moral, yang merupakan manifestasi, obyektivikasi, dan bentuk operasional dari sifat-sifat-Nya.
Inilah yang dimaksud dengan *”cinta metafisik”*, yang esensi dan substansinya adalah moral. Cinta yang berdasarkan pada moral (nilai mutlak Ilahiyah), cinta yang tunduk tanpa syarat pada moral.
Cinta yang melanggar moral (amoral), maka sudah bukan cinta lagi tatapi hanyalah cinta palsu (pseudo love) dan berhala sebagaimana yang dituduhkan oleh Rumi.
Artinya bahwa “cinta itu tunduk tanpa syarat” pada “nilai mutlak Ilahiyah”, pada “moral”, yang bersumber dari sifat-sifat Tuhan.
BACA JUGA:
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Jenasah Niki Hilang_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Misi Penyelamatan Keluarga Istana Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Tragedi di Istana Kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Bencana di Istana kerajaan Matraman Raya_
SALAHUDIN JALAL TANJUNG: _Ustaz Bondan Kaja dan Bupati Kediri Menghilang_
*Verifikasi Empiris*
Verifikasi empiris adalah proses pembuktian kebenaran suatu hipotesis, teori, atau pernyataan menggunakan bukti nyata, data lapangan, observasi langsung, atau eksperimen yang dapat diindera. Ini memastikan temuan berdasarkan fakta objektif (dunia nyata), bukan sekadar asumsi atau teori semata.
*Bukti I*
Allooh Maha Rohmaan dan Rohiim (Maha Mencintai), maka Anda juga harus mencintai sesama dan segala ciptaan-Nya.
Dia Maha Dermawan, maka Anda juga harus menjadi orang yang dermawan kepada sesama dan segala ciptaan-Nya.
Dia Maha Pencipta (Kreatif), maka Anda juga harus menjadi orang yang kreatif menciptakan suatu karya cipta yang inovatif yang berguna bagi sesama dan segala ciptaan-Nya, dan seterusnya. Itulah manifestasi dari manusia yang bermoral.
Saat dimana Anda merefleksikan, menyelaraskan, dan menirukan Sifat-Sifat Tuhan seperti dalam contoh-contoh di atas, maka pada saat yang sama, sebenarnya Anda sedang bermoral. Dan saat dimana Anda sedang bermoral, maka pada saat yang sama, Anda bukan saja sedang mencintai obyek-obyek cinta empiris (makhluk), tetapi juga Anda sedang mencintai Tuhan. Itulah hakikat dari *”cinta metafisik”*, atau *”cinta kosmis”* atau *”cinta spiritual”* atau *”cinta kepada Tuhan”*.
*Bukti II*
Untuk menyodorkan bukti ini, saya hanya menggunakan dan mengajukan beberapa pertanyaan yang begitu sederhana, atau mungkin hanyalah pertanyaan anak TK.
Bisakan Anda mencintai orang lain atau segala ciptaan-Nya (makhluk), seperti orang tua, kekasih, suami, istri, anak, saudara, tetangga, harta, jabatan, pekerjaan, udara, sungai, hutan dan lain-lain tanpa moral (bermoral), misalnya dengan tidak bertanggungjawab, berbohong, berkhianat, zhalim, menyakiti, merusak, dan bentuk amoral (moral bejad) lainnya…?
Bukankah tidak bertanggung jawab itu mengandung arti bersikap abai, lalai, tidak dapat diandalkan, plan-plin, ceroboh, apatis (tidak peduli) dan tidak profesional?
Semua contoh perilaku amoral tersebut di atas merupakan manifestasi dari egoisme yang menjadi lawan dari cinta. Dimana egoisme itu tak lain daripada berhala, yakni menuhankan diri sendiri sekaligus menuhankan perilaku amoral tersebut.
Kemudian, bukankah ketika Anda berbohong atau berdusta, atau tidak jujur pada orang yang katanya Anda cintai itu pada dasarnya, sadar atau tidak, sengaja atau tidak, mengakui atau tidak, Anda sedang menipu, memanipulasi, menyakiti, merugikan, merendahkan, menzhalimi (QS. Huud [11]: 18), dan sejenisnya terhadapnya?
Bahkan kalau kita kulik lebih dalam lagi sampai ke akarnya misalnya, bohong itu sebenarnya upaya untuk menyembunyikan, menggelapkan, dan menghilangkan kebenaran demi egoisme, demi keinginan dan kepentingan diri orang yang berbohong, bukan demi kepentingan orang yang katanya dia cintai. Artinya, bohong itu merupakan manifestasi dari berhala, tepatnya berhala egoisme. Berhala egoisme itu tak lain daripada ‘menuhankan’ diri sendiri’ sekaligus ‘menuhankan’ kebohongan tersebut.
Enam Serial Novel Fantasi Religi karya MJK,. Bisa anda dapatkan dengan Harga terbaik Rp.100 ribu per eksemplar sudah termasuk Ongkir untuk di Pulau Jawa. Untuk di luar Pulau Jawa ada tambahan Ongkir.
Silahkan hubungi kontak WA MJK untuk informasi & order
- Blue Moon
- Suksesi Tak Berdarah
- Sayidin Panotogomo
- Tiga Pendekar Langit
- Salahudin Jalal Tanjung
- Adam Musthofa.
“ORDER BUKU” silahkan kontak wa saya MJK: 081266804830
Alloh swt berfirman:
“Hindarilah perbuatan menyembah berhala-berhala dan berkata bohong”, (QS. Al-Hajj [22]: 30).
Maksudnya ayat itu adalah, berbohong pun merupakan manifestasi berhala…!!!
Terbukti sudah bahwa moral merupakan hal yang mutlak, yang menjadi *”landasan metafisik*”, dari apa yang disebut cinta *SEPERTI* mutlaknya ruang dan waktu metafisik yang menjadi dasar dari ruang dan waktu empiris.
Sehingga, Anda dapat disebut orang yang memiliki cinta, orang yang mencintai, *if and only if* (kalau dan hanya kalau) Anda bermoral…!
Itulah yang disebut dengan *”cinta metafisik”* dalam arti yang paling operasional dan konkrit dalam kehidupan sehari-hari.
Jika begitu persyaratannya, maka berarti moral merupakan manifestasi dari *”cinta metafisik”*, atau sama saja bahwa moral itu ekuivalen dengan *”cinta metafisik”*.
Artinya, jika Anda cinta atau mencintai, maka bermorallah, atau bermorallah sebelum dan saat Anda mencintai orang lain dan obyek-obyek cinta empiris lainnya.
Ini berarti bahwa, saat dimana Anda sedang bermoral dalam segala hal, terutama saat Anda mencintai obyek-obyek cinta empiris seperti kekasih, orang tua, saudara, harta, jabatan, profesi, hutan, sungai, gunung, dan bagian-bagian alam semesta lainnya (makhluk), maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang mencintai makhluk tersebut. Dan saat dimana Anda sedang mencintai makhluk, maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang mencintai Tuhan.
Itulah tafsir hakikat dan filosofis sekaligus analitik dan operasional dari apa yang dimaksud oleh kaum Sufi bahwa hakikatnya cinta adalah mencintai Tuhan.
Sebaliknya, saat dimana Anda tidak bermoral atau bermoral bejad, maka pada saat yang sama, hakikatnya Anda sedang bukan mencintai tetapi sedang egois (memberhalakan egoisme) sekaligus sedang memberhalakan apa yang konon katanya Anda cintai.
Artinya, Anda sedang berbuat syirik, Anda sedang menyekutukan dan bermaksiat kepada-Nya. Dan tentu, jika sudah demikian, maka Allooh ‘Azza wa Jalla akan tulis Anda sebagai seorang yang musyrik.
Dari pembeberan di atas, maka terkuaklah sunatullah yang selama ini bersembunyi rapat di keghaiban rahasia-Nya, yang menyatakan bahwa: *”Cinta itu moral. Tidak bermoral atau bermoral bejad (amoral) merupakan manifestasi dari egoisme. Egoisme itu, tak lain dan tak bukan, adalah hawa nafsu, vested interrest, keinginan dan kepentingan diri sendiri, dan berhala (ilah-ilah yang bukan Allooh). Sehingga cinta itu lawan dari egoisme”*.
Tidak berhenti di situ, bahkan semua bentuk kejahatan, keburukan, perbuatan hina, nista dan durjana, perbuatan destruktif, perbuatan negatif, kebatilan, kekejian, kemungkaran, kesesatan dalam kehidupan sehari-hari bersumber dari apa yang disebut dengan egoisme, berhala egoisme itu.
*****
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Azis Khafia : Kiyai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia telah Berpulang Ke Rahmatullah
- Forkomnas Ormas Islam Nasional Sampaikan Sikap atas Tiga Isu: Serangan ke Tanah Suci, Pelarangan Jilbab, dan Rencana Konser
- Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Universitas Paramadina Soroti Pentingnya Penguatan Fondasi Komunikasi Publik & Komunikasi Empati
- [CEK FAKTA] TNI Siapkan Strategi Terjun Payung Langsung ke Titik Api, Apakah Benar?
- TABAYYUN DI ERA AI, REALITAS MEDIA TIDAK SAMA DENGAN REALITAS SOSIAL
- Diresmikan 9 Oktober, Masjid Annur Siti Aminah Jadi Pusat Pembinaan Mualaf di Pedalaman Donggala
Baca berita lainnya hanya di WARTAIDAMAN.com

*phofmu/ wi/ nf/ 130326
Views: 42






















