Baca Juga di WARTA IDAMAN (2)
- UNAS Gelar ICGI ke-3, Soroti Polycrisis Global dan Pentingnya Ketahanan Dunia Menuju 2030
- Alumni Madinah dan Saudi Arabia Kecam Keras Serangan terhadap Bandara Riyadh, Desak Perlindungan Jamaah Umrah dan WNI
- Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman, Kemenhaj Imbau Tingkatkan Kewaspadaan di Tengah Situasi Timur Tengah
- Terima Kunjungan Dubes Yordania, Menhaj Bahas Peluang Wisata Jemaah Haji dan Umrah Indonesia
- UEA-Indonesia Perkuat Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan
- Bekali Calon Mahasiswa ke Maroko, Kemenag Tekankan Integritas, Adaptasi, dan Semangat Membawa Nama Indonesia
- Al Washliyah Terima Tamu Palestina: Tegaskan Solidaritas dan Dukungan
Nampak jelas dari ayat-ayat Al-Qur-an di atas, bahwa mengkultuskan memberhalakan, dan menyembah tandingan-tandingan selain Allooh, yaitu dengan mencintai obyek-obyek cinta empiris sebagaimana mencintai Allooh itu, bukan hanya merupakan perbuatan syirik dan fasik, tetapi juga orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut akan menyesal dan akan menghuni Neraka Jahannam.
Maka tidak heran jika Syaikh Akbar Ibnu ‘Arobi bilang dalam Futhuhatnya, “bahwa objek cinta empiris itu hakikatnya tidak ada”.
Tentu, obyek cinta empiris itu *tidak ada*, jika dalam mencintai obyek cinta empiris tidak berdasarkan, tidak tunduk tanpa syarat, pada “nilai mutlak Ilahiyah”. Karena jika demikian adanya, maka sebenarnya obyek cinta empiris seperti itu sudah berubah menjadi berhala.
Sebenarnya Ibnu ‘Arobi mau bilang bahwa *”obyek cinta empiris”* itu ada dengan syarat, dalam mencintainya harus berdasarkan tunduk tanpa syarat pada “nilai mutlak Ilahiyah” atau pada “cinta metafisik”. Jika sudah demikian, maka cinta empiris bukan hanya sebagai cinta empiris an sich, tetapi pada hakikatnya sudah menjadi cinta empiris sekaligus cinta metafisik dalam waktu yang bersamaan.
Anda, kita, manusia tidak bisa mencintai Tuhan hanya berhenti pada menjalankan ibadah-ibadah ritual saja, tetapi juga harus dibuktikan dengan mencintai obyek-obyek cinta empiris seperti orang lain, harta, profesi, dan alam semesta.
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
Anda tidak bisa langsung mencintai Tuhan tanpa perantara mencintai obyek-obyek cinta empiris terlebih dahulu. Karena untuk bisa mencintai Tuhan harus melalui perantara “cinta empiris”, cinta kepada segala ciptaan-Nya, yang merupakan manifestasi-Nya, yang merupakan ayat-ayat-Nya, dan yang merupakan milik-Nya yang begitu Dia cintai.
Intinya, cinta empiris, cinta kepada segala ciptaan-Nya, cinta kepada makhluk,p merupakan “cinta majazi”, yang jika didasarkan pada ” nilai mutlak Ilahiyah”, maka pada hakikatnya merupakan bentuk “cinta metafisik”, atau cinta majazi tersebut akan mengantarkan manusia pada “cinta haqiqi”, yaitu “cinta kepada Tuhan” atau “mencintai Tuhan”.
Dan juga, karena salah satu bukti kalau Anda mencintai-Nya, adalah dengan mencintai apa yang begitu Dia dicintai.
Jika Anda sudah mencintai-Nya, maka atas izin-Nya, Anda berhak untuk dicintai oleh-Nya, Anda berhak untuk mendapatkan cinta-Nya, dan Anda berhak untuk menjadi kekasih-Nya.
Jangan ngomong cinta, apalagi cinta pada-Nya, sebelum Anda mencintai orang lain (sesama) dan segala ciptaan-Nya yang begitu Dia cintai…!!!”
*Cinta Itu Moral*
Saya akan buktikan bahwa salah satu arti hakikat dari cinta adalah moral atau akhlak.
Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghozali (1058 ~ 1111 M) bilang, “Hakikat cinta adalah mencintai-Nya, yaitu saat dimana sifat-sifat seseorang telah sesuai dengan sifat-sifat-Nya”.
Bapak Cinta, Ibnu Hazm Al-Andalusi (994 ~ 1064 M) bilang, “Cinta merupakan sifat-sifat Tuhan yang bersemayam dalam jiwa yang terdalam dari manusia. Jika seseorang jatuh cinta karena suatu sebab obyek cinta empiris yang dicintainya, maka itu bukan cinta, tetapi itu hawa nafsu dan berhala yang berkedok cinta. Cinta yang seperti itu tidaklah abadi, karena cintanya akan hancur bersamaan hancurnya sebab itu”.
>>> ke Halaman 7
Baca Juga di WARTA IDAMAN (5)
- UIA Bahas Rencana Kerja Sama dengan TDA Muda di Toko Kopi Inch
- Dari Narasi ke Agribisnis: Eks Wartawan Bangkit Lewat AGRIJurno, Kolaborasi Gotong Royong Cetak Kemandirian Ekonomi
- Gandeng Owner Kedai Edelweis, PEKA BPJS Ketenagakerjaan Sukses Cetak Wirausaha Dimsum Siap Pakai
- PKK Condongcatur Sulap Tempe Jadi Kuliner Modern, Lahirkan Inovasi Menu Bergizi untuk Cegah Stunting
- RW 02 Cipinang Muara Gelar Halal Bi Halal dan Bazar UMKM serta Launching RW Mart
- Jogja Gelar 3 Pameran Industri
Views: 42























