Baca Juga di WARTA IDAMAN (3)
- Hubungan Dunia Politik dan KAHMI: Lengah terhadap Jasa Para Senior?
- Hikmah dari Neutrino: Menangkap Energi Ilahi dengan Qalbun Salim
- Masyhuril Khamis Imbau Jemaah Umrah Indonesia Tingkatkan Kewaspadaan
- Pasca-Polemik Statement Bulan Dana PMI Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung: Ramdansyah Dorong 5 Langkah Strategis Pembenahan Tata Kelola Kemanusiaan di Jakarta
- Bantah Isu Tebang Pilih, Polisi Watch Minta Insan Pers Tetap Objektif
- Ketika “Upload” Medsos Mengalahkan Substansi, dan Jurnalis Dianggap Musuh
Itulah apa yang dimaksud oleh kaum sufi, bahwa *hakikat cinta* adalah *hanya satu*, yaitu *mencintai Tuhan*.
Menegaskan kembali bahwa ruang dan waktu empiris itu ada, maujud, jika berpijak pada ruang dan waktu metafisik. Demikian juga, “cinta empiris” bisa disebut cinta empiris, atau “cinta empiris” itu bisa ada dan maujud dalam kehidupan sehari-hari, *DENGAN SYARAT* berpijak atau tunduk syarat pada “nilai mutlak Ilahiyah” (moral) atau pada “cinta metafisik”.
Dengan kata lain, “nilai mutlak Ilahiyah” atau moral itu, adalah suatu nilai yang dipakai sebagai ukuran (indicator) untuk menentukan apakah itu merupakan “cinta empiris” sebagai manifestasi “cinta metafisik”, atau sekedar hanya egoisme, hawa nafsu, vested interest, ambisi/kepentingan pribadi sebagai manifestasi berhala, tepatnya “berhala cinta”.
Singkat kata, bahwa cinta metafisik itu = moral, cinta metafisik itu = nilai mutlak Ilahiyah (ketentuan, kehendak, dan perintah-Nya/ajaran-Nya).
Baca Juga di WARTA IDAMAN (8)
- Azis Khafia : Kiyai Syuqron Makmun, Singa Mimbar Indonesia telah Berpulang Ke Rahmatullah
- Forkomnas Ormas Islam Nasional Sampaikan Sikap atas Tiga Isu: Serangan ke Tanah Suci, Pelarangan Jilbab, dan Rencana Konser
- Refleksi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Universitas Paramadina Soroti Pentingnya Penguatan Fondasi Komunikasi Publik & Komunikasi Empati
- [CEK FAKTA] TNI Siapkan Strategi Terjun Payung Langsung ke Titik Api, Apakah Benar?
- TABAYYUN DI ERA AI, REALITAS MEDIA TIDAK SAMA DENGAN REALITAS SOSIAL
- Diresmikan 9 Oktober, Masjid Annur Siti Aminah Jadi Pusat Pembinaan Mualaf di Pedalaman Donggala
Sekali lagi, bahwa analogi berikutnya adalah, rumah dan ruang rumah yang bersifat empiris, atau arloji dan waktu di arloji yang bersifat empiris itu, analog dengan subyek dan obyek cinta yang bersifat empiris.
Kemudian ruang dan waktu metafisik itu, analog dengan moral, dengan nilai mutlak Ilahiyah, yang menjadi esensi dan substansi dari cinta metafisik (cinta kosmis, cinta spiritual).
Bukankah saat dimana obyek-obyek cinta empiris yang Anda cintai sudah tidak ada, atau bahkan Anda sendiri sebagai subyek yang mencintai telah kembali kehadirat Ilahi Robbi alias meninggal dunia, cinta metafisik itu, moral itu, nilai mutlak Ilahiyah itu, tetap ada, dan tidak rusak sedikit pun?
*Cinta Empiris*
*Versus*
*Berhala Cinta*
Berpijak pada analogi dan definisi cinta metafisik di atas, maka “cinta empiris”, seperti cinta kepada orang lain, harta, profesi, alam semesta (makhluk), tidak pernah ada tanpa berpijak pada “cinta metafisik”. Artinya, saat dimana Anda mencintai seseorang atau segala ciptaan-Nya tetapi tidak berpijak pada “nilai mutlak Ilahiyah”, maka itu bukan cinta, tetapi hanyalah ‘berhala cinta’. Dengan begitu, berarti pada hakikatnya Anda bukan sedang mencintai apa yang Anda cintai itu, tetapi Anda sedang memberhalakan (menyembah, mengkultuskan) apa yang Anda cintai tersebut, meskipun Anda tidak menyadari dan mengakuinya.
Ini berarti juga bahwa cinta Anda kepada makhluk tersebut telah melebihi cinta Anda pada Allooh swt, sehingga hanya akan membawa Anda untuk menjadi milik, budak, dan hamba dari sesuatu yang Anda miliki dan yang konon Anda cintai itu.
Dan itulah makna hakikat dari ayat di bawah ini:
“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (At-Taubah: 24).
Dan pada saat yang sama, berarti Anda telah menduakan dalam mencintai-Nya. Berarti Anda telah menyembah dan memberhalakan (menuhankan) apa yang konon Anda cintai tersebut. Itulah ‘berhala cinta’ namanya. Itulah yang disebut syirik atau polytheisme tersembunyi yang tidak disadari oleh mayoritas manusia saat mencintai sesuatu yang bersifat duniawi.
Allooh swt berfirman:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah (mengkultuskan, memberhalakan) tandingan-tandingan selain Allooh. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allooh. Adapun orang-orang yang beriman, cinta mereka kepada Alloh sangat kuat. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari pembalasan), bahwa semua kekuatan itu milik Allooh, dan bahwa Allooh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka sangat menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang (sesuatu) yang diikuti (disembah, dicintai) itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya (menyembahnya, mencintainya), dan mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan diantara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti (menyembah, mencintai), “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), maka pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allooh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka”, (QS. Al-Baqoroh [2]: 165-167).
>>> ke Halaman 6
Baca Juga di WARTA IDAMAN (1)
- Rizki Kasbi (كسب) dan Rizki Taqdiri (تقدر)
- Tiga Tingkatan Himmah (Keinginan) pada Diri Manusia
- Ummu Syarik: Kebaikan Tidak Harus Menunggu Banyak Dukungan
- Hikmah ke-4 Kitab Al-Hikam tentang Tawakal dan Ketenangan Jiwa
- Ketika Suara Ranting Menjadi Ancaman: Belajar dari Kematian Seekor Rusa
- Jangan Simpan Kebaikan Hanya untuk Diri Sendiri
Views: 42























